Translate

07 December, 2012

Timur atau Barat? Episode 2

Lapangan Tennis De Bongerd

Tenis adalah olahraga favoritku dari aku kecil sampai sekarang. Dulunya aku hanya bisa menyaksikan pertandingan tenis di televisi pemerintah. Itupun kalau aku beruntung, soalnya jarang sekali pertandingan tenis disiarkan karena kalah pamor oleh sepakbola ataupun bulutangkis. Baru ketika aku bekerja di kantor pemerintah yang kebetulan berlokasi di depan kompleks lapangan tenis, aku benar-benar bisa merasakan bermain tenis. membayangkan masa itu aku pasti suka terrtawa sendiri. Aku masih ingat bagaimana hampir setiap siang pada jam istirahat kantor aku memaksa beberapa orang teman kantorku untuk masuk ke dalam kompleks lapangan tenis dan bermain tenis apa adanya. Yang aku maksud apa adanya adalah kami bermain dengan kemeja dan celana kantor tergulung dan tanpa sepatu alias bertelanjang kaki dan yang paling seru adalah kami harus masuk melewati pagar kawat yang kebetulan berlobang. Tapi jangan berburuk sangka dulu, bukan kami yang melobanginya.  Di siang hari kompleks itu terkunci dan tidak ada petugas yang menjaga. Raket yang kami pakaipun sangat seadanya dan jujur saja aku lupa raket siapa yang aku pakai dulu, yang aku ingat selalu ada raket-raket tua yang tersimpan di kantor. Ternyata banyak hal yang memalukan tentang sejarah awal aku bermain tenis. Hal lain adalah kami tidak pernah membeli bola tenis yang relatif mahal, alhasil sebelum bermain tenis, kami merumput dulu, alias mencari bola-bola bekas pemain tenis yang biasanya latihan di lapangan secara rutin. Bola-bola ini bersembunyi di balik tebalnya rumput kompleks lapangan yang luput dari penglihatan penjaga bola. 

     Masih ada beberapa hal lain yang tidak tahan untuk tidak kutuliskan tentang pengalaman pertamaku bermain tenis. Karena kami bermain saat jam istirahat kantor ketika matahari sedang eloknya mengumbar sinar panasnya kemana-mana, maka badan kamipun berbelang dua. Setiap aku bercermin dan membuka baju, akan terlihat bagian siku ke bawah dan bagian muka sampai lingkar sekitar leher berwarna cukup kontras dengan bagian tubuh lain. Agak susah menemukan warna apa yang tepat tapi yang pasti warnanya kelam alias agak gosong.  Yang terakhir adalah tentang gaya permainan tenisku. Aku tidak pernah benar-benar berlatih tenis dengan seorang pelatih karena biayanya cukup mahal alhasil aku hanya menggunakan instingku dari mulai cara memegang gagang raket yang tidak benar sehingga membuatku sering merasa nyeri setelah bermain, kemudia caraku memukul bola yang kadang-kadang aku rasa lebih mirip gerakan tarian daerah, sampai gaya servisku yang mirip dengan servis bulutangkis. Kenyataan ini membuat gaya permainan tenisku berbeda dengan permainan tenis yang standar dan berlanjut sampai sekarang. Meskipun demikian, aku masih bisa mengimbangi permainan rekan-rekanku yang tergabung dalam sebuah klub tenis.

     Kegilaanku bermain tenis berlanjut sampai ke Belanda. Aku mempunyai seorang teman yang tinggal di kota Wageningen yang tidak terlalu jauh dari kota tempatku kuliah, Nijmegen. Dua bulan terakhir setelah aku menyelesaikan tesisku, aku memutuskan untuk bergabung dengan temanku tinggal di Wageningen. Alasan pertama tentu saja agar aku bisa berhemat karena aku dan temanku membayar sewa satu kamar. Alasan kedua tentu saja karena kompleks lapangan tenis yang menurutku sangat bagus. Bornsesteeg, flat mahasiswa tempat temanku tinggal berada tidak jauh dari komplek lapangan tenis yang dalam ukuranku luar biasa bagus. Kompleks ini memiliki tiga lapangan beralaskan rumput sintetis yang sangat mirip dengan rumput sebenarnya dan tiga lapangan tanah liat yang sebelumnya hanya bisa aku lihat di televisi. 

    Hampir setiap sore aku dan teman-temanku yang rata-rata mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan S2 atau S3 di universitas Wageningen bermain tenis. Tenis adalah salah satu cara yang cukup ampuh untuk mengurangi stress yang disebabkan oleh tugas kuliah. Idealnya kami harus menggunakan sport card untuk bisa menggunakan lapngan tenis, tapi tidak semua memiliki kartu tersebut kami harus membayar beberapa euro jika ingin memilikinya, termasuk aku. Jadi yang kami lakukan adalah mengintai gedung de Bongerd yang menjadi gedung utama kompleks olaraga tersebut. Biasanya ada seorang pria tua yang berjaga di sana. Setelah memastikan pak tua tidak ada di tempat, kami pun masuk ke area lapangan tenis dan mulai bermain.  Tindakan ini tidak boleh dicontoh tapi karena kami semua tergila-gila dengan tenis jadi terkadang kami mengabaikannya.

       Suatu sore di musim panas ketika matahari menjadi sesuatu yang sangat dicintai oleh mereka yang tinggal di negara 4 musim, kami memutuskan untuk bermain tenis di de Bongerd. Kebetulan tidak ada kelompok mahasiswa dari negara lain yang bermain sore itu jadi praktis aku dan ketiga temanku bisa bermain sepuas hati. Kami bermain tenis dengan serius tapi penuh tawa menertawakan gaya kami bermain yang kadang lebih sering memukul bola keluar garis lapangan atau menyangkut di net. Suatu ketika seorang temanku memukul bola ke atas sehingga bolapun meluncur deras melewati pagar kawat pembatas yang aku perkirakan tingginya lebih dari enam meter. Tidak banyak bola yang kami punya jadi kamipun berhenti sesaat untuk mengintip dari celah-celah pohon-pohon yang ditanam di luar bagian pagar kawat. Kami dapat melihat dengan jelas bola itu mendarat di area berumput di seberang jalan yang terbentang di antara kompleks lapangan tenis dan bagian samping gedung de Bongerd. Kami tahu salah satu dari kami harus berinisiatif mengambil bola itu. Tapi membayangkan kami harus keluar dari pintu kompleks yang terletak di ujung kompleks dan berjalan memutari setengah kompleks itu, kami berempatpun seperti kehilangan inisiatif untuk mengambilnya. 

Tapi belum sempat kami memaksa teman kami yang telah memukul bola itu keluar untuk mengambil bola di luar, kami melihat sebuah mobil sedan hitam mulus yang menurutku adalah sebuah sedan yang sangat mewah berhenti di pinggir jalan persis di dekat bola kami yang dipukul keluar oleh salah seorang teman kami tadi. Pintu sedan bagian kiri depan terbuka dan keluarlah seorang wanita berambut pirang dengan gaun pesta berwarna biru perak terang dengan sepatu berhak tinggi berwarna perak pula. Wanita itu tidak melihat ke arah kami dan dengan anggunnya dia berjalan melintasi halaman rumput di sebelah jalan dan memungut bola kami. Kemudian dia berjalan mendekati kompleks lapangan persis di dekat kami yang masih ternganga di dua bagian, yaitu mulut dan mata. Wanita itu lalu melempar bola itu ke dalam lapangan sambil berteriak ramah "goedemiddag!" yang artinya selamat sore kemudian dia masuk kembali ke mobilnya menyisakan bagian punggung terbukanya untuk kami lihat yang ternyata tidak kebagian bahan gaun birunya yang panjang sampai ke tanah dan tak lama mobilnyapun lenyap dari pandangan mata kami.

     Beberapa saat kami tidak mengucapkan sepatah katapun, kami hanya saling berpandang-pandangan sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Awalnya secara pribadi, aku bertanya kepada diriku sendiri, akankah aku melakukan hal yang sama jika aku sedang menyetir lengkap dengan setelan rapiku dan melihat bola di pinggir jalan? Agak susah aku menjawabnya karena aku tidak bisa menyetir. Kedua, adakah orang sebaik wanita itu di negaraku? Kemudian baru aku perpikir hal lain yang lebih penting mungkin. Aku yakin kami memikirkan dua hal yang sama, yang pertama, betapa cantik dan seksinya wanita tadi, kedua, betapa berlebihannya wanita itu rela mau turun dari mobilnya dan mengambilkan bola gundul yang sudah kami pakai berkali-kali itu. Hal ketiga yang kami pikirkan yaitu mudah-mudahan lain waktu ketika kami memukul bola tenis itu keluar dari lapangan secara sengaja atau tidak, wanita itu akan muncul lagi dan mengambilkannya untuk kami atau bahkan akhirnya dia mau bermain tenis bersama kami.

    

 

 

 

 

 

05 December, 2012

Timur atau Barat? Episode 1

Waktu aku duduk di bangku sekolah, seringkali guru-guruku mengulang-ngulang frasa 'budaya timur. Guru-guruku selalu bilang bahwa Indonesia negaraku adalah salah satu negara yang terkenal dengan adat ketimurannya yang cukup dikenal di dunia. Pemahamanku adalah budaya merupakan cara hidup sekelompok manusia yang selalu berkembang dari waktu ke waktu dan diikuti oleh orang-orang yang berada dalam kelompok tersebut. Namun seiring berjalannya waktu dan kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan, pergeseran nilai-nilai budaya yang ada dalam sebuah kelompok tertentu tidak dapat dihindari. Hal ini terkadang menimbulkan benturan di dalam kelompok masyarakat tersebut. Benturan yang sangat mungkin terjadi adalah ketika segelintir orang dalam kelompok masyarakat tertentu merasa nilai-nilai budaya yang selama ini mereka agung-agungkan dan mereka anggap benar tidak lagi dipraktekkan atau digunakan oleh segelintir orang yang berasal dari kelompok yang sama. Pertanyaannya adalah, apakah mereka yang selalu patuh dengan nilai budaya mereka berhak untuk menghakimi mereka yang mengabaikan nilai budaya tersebut?

Aku tidak akan memperdebatkan masalah yang aku kemukakan di atas. Aku hanya ingin sedikit membuka sebuah wacana yang aku anggap sederhana tapi menarik dan terabaikan olehku. Aku terbiasa didengung-dengungkan dengan konsep budaya timur yang agung, baik dan patut dibanggakan. Beberapa bentuk adat ketimuran yang aku tahu adalah, toleransi kepada orang lain terutama orang yang kekurangan seperti cacat fisik, atau orang yang lebih tua dari kita. Kemudian kebiasaan gotong royong melakukan suatu kegiatan bersama-sama. Jujur saja aku merasa bangga dengan budaya timur seperti yang aku sebutkan di atas. Alangkah indahnya ketika kita bisa menolong atau bertenggang rasa dengan orang yang memiliki keterbatasan atau butuh pertolongan kita. Selain itu, bukankah itu juga dianjurkan oleh agama-agama yang ada di muka bumi ini?

          Namun ketika aku berkesempatan untuk hidup singkat di sebuah negara di Eropa yaitu Belanda yang pada awalnya aku cukup yakin aku tidak akan bisa menemukan orang-orang yang bergotong royong membersihkan jalan misalnya, atau orang-orang yang mendirikan tenda di rumah seseorang yang sedang memiliki hajatan atau ditimpa musibah, atau anak-anak yang mencium tangan orang tuanya ketika mau pergi ke sekolah, aku justru dihadapkan dengan peristiwa-peristiwa yang mengguncang dan menampar hati dan mukaku. Beberapa kali dalam kekeluan lidahku aku berpikir mungkin aku sedang berada di negaraku beberapa puluh atau ratus tahun yang lalu.

Pada suatu hari aku harus menuju kampusku tercinta Radboud Universiteit di Nijmegen dari Ede-Wageningen, kota tempat aku tinggal dua bulan terakhir sebelum aku balik ke Indonesia. Seperti biasa aku harus bertemu dengan pembimbing tesisku yang sama seperti orang lain di negara itu yang tidak suka menunggu dan selalu tepat waktu. Bis yang membawaku dari apartemen mahasiswa Bornsesteeg menuju stasiun Ede-Wageningen tiba tepat waktu. Setelah membeli tiket kereta, akupun bergegas menaiki tangga yang menghubungkan lantai dasar stasiun dengan tempat para penumpang menunggu dan menaiki kereta. Sudah ada beberapa orang yang menunggu di stasiun itu. Ada sepasang pria dan wanita berumur yang tengah menikmati hangatnya kopi di tengah musim gugur yang mulai menusuk tulang ini. Aku juga melihat seorang perempuan tua yang duduk di atas kursi roda sedang membaca koran berbahasa Belanda. Tiba-tiba dalam hati aku melemparkan pertanyaan kepada diriku sendiri, bagaimana caranya wanita ini naik ke kereta nanti? Setahu aku, posisi lantai kereta lebih tinggi alias tidak sejajar dengan lantai stasiun ini jadi tidak mungkin dia bisa menaiki kereta dengan kursi rodanya. Tapi aku hapus pertanyaan dalam benakku yang tidak penting itu. Stasiun ini terbagi dua jalur yang dilewati kereta-kereta dengan arah yang berlawanan. Aku pun memilih sisi yang akan dilewati oleh kereta yang akan membawaku ke kota Arnhem dan Nijmegen. Aku sempat celingak celinguk untuk mencari posisi yang nyaman untuk menunggu kereta sambil mendengarkan musik dari headset yang terhubung dengan telepon genggamku. Akhirnya aku memilih untuk berdiri di dekat tiang stasiun tidak jauh dari sekelompok anak muda yang kelihatannya adalah anak-anak Belanda yang baru pulang dari sekolah. Aku cukup yakin mereka orang Belanda dari bahasa yang mereka gunakan dalam percakapan. Mereka mengobrol santai sambil sekali-sekali tertawa dan berteriak. Aku sedikit terganggu dengan mereka karena teriakan-teriakan mereka cukup membuatku tidak nyaman, tapi aku berusaha untuk tidak peduli dan mengeraskan volume musik teleponku.

Bunyi gemuruh suara kereta terdengar semakin jelas mengalahkan bunyi headsetku. Tak lama setelah itu muncullah si kuning panjang kereta kebanggaan Belanda dari arah Arnhem yang semakin perlahan mendekati stasiun dan akhirnya berhenti sama sekali. Kereta ini akan menuju Amsterdam jadi berhenti di jalur di belakangku yang berlawanan arah dengan jalur tujuanku. Timbul rasa penasaranku ingin melihat bagaimana si wanita dengan kursi roda yang mengusik pikiranku tadi naik ke kereta, aku membalikkan badanku persis ketika kereta benar-benar berhenti. Pintu-pintu kereta itu pun terbuka secara otomatis dan  tertulis atau tidak, penumpang yang turun dari kereta lebih dahulu turun sementara penumpang yang akan naik ke kereta menuggu dengan sabar. Aku melihat wanita di kursi roda tadi perlahan menggerakkan kursi rodanya mendekati pintu kereta terdekat yang kebetulan kosong karena tidak ada penumpang yang turun atau akan naik. Terlihat seorang petugas kereta yang turun dari pintu lain berjalan ke arah wanita itu. Hatiku kembali bergumam, si petugas itu cuma sendirian, tidak mungkin dia mampu mengangkat wanita dan kursi rodanya itu. Belum sempat aku menyelesaikan gumamanku, dari sudut mataku terlihat kelompok remaja Belanda yang sempat membuatku sedikit terganggu karena beberapa kali berteriak-teriak dan tertawa ngakak berjalan atau boleh dibilang setengah berlari menuju ke arah wanita berkursi roda yang akan naik ke kereta itu. Sambil terus bercanda dan ngobrol satu sama lain mereka saling berebutan mengangkat kursi roda dan wanita yang duduk di atasnya mendahului petugas kereta yang akhirnya hanya bediri di samping mereka. Setelah si wanita mendarat dengan selamat ke dalam kereta, remaja-remaja tadi kembali ke tempat mereka semula sambil terus mengobrol seru dan tertawa-tawa dan aku yakin tidak sedikitpun mereka membahas wanita dan kursi roda yang baru saja mereka angkat ke kereta tadi, seolah-olah mereka tidak melakukan sesuatu yang penting dan patut diperbincangkan.

Aku berusaha untuk tidak melihat ke arah mereka karena aku tidak mau mereka melihat mukaku yang rasanya baru saja kena terpaan awan panas alias wedus gembel dari gunung yang sedang meletus. Headsetku masih melantunkan lagu-lagu yang ada dalam telepon genggamku tapi aku tidak bisa lagi mencerna satupun kata-kata yang ada dalam nyanyian yang aku dengar. Sesaat aku merasa nuraniku menghakimiku lahir batin. Aku yang selama ini selalu merasa punya otak cukup cerdas hanya mampu berpikir bagaimana caranya si wanita dengan kursi roda itu naik ke kereta. Tapi ternyata hatiku tidak cukup cerdas untuk berpikir bahwa aku seharusnya bisa membantu mengangkat wanita itu. Mengapa sedikitpun aku tidak tergerak untuk membantu wanita itu? Apakah membantu orang lain yang memilki keterbatasan itu bukan bagian dari budayaku? Apakah secara individu aku memang tidak memilki kepekaan untuk membantu orang lain yang membutuhkan? Apakah karena aku sedang berada di sebuah negara yang awalnya aku anggap jauh dari nilai-nilai budaya tolong-menolong jadi aku merasa aku tidak perlu terlalu peduli dengan orang lain? atau apa memang sebenarnya aku memang tidak peduli? Semua pikiranku buyar ketika bunyi peluit kereta yang akan menuju Arnhem dan Nijmegen melengking mengagetkanku dan pintu-pintu keretapun tertutup. Entah kapan datangnya kereta ini tapi yang pasti aku ketinggalan kereta dan aku akan terlambat bertemu dengan profesor pembimbing tesisku karena harus menunggu kereta selanjutnya. Aku masih sempat melihat remaja-remaja Belanda tadi melanjutkan canda mereka lewat kaca jendela kereta yang bening.(LT)

16 November, 2012

Curhat si Lampu Merah Gokil 1

Pertama-tama, ijinkan aku memperkenalkan diriku yang ganteng ini. Orang suka menyebutku lampu merah. Aku kurang suka dengan sebutan itu karena selain merah, aku juga berwarna hijau dan kuning. Inilah keanehan pertama yang aku temukan dari mahluk yang namanya manusia. Terkadang mereka ingin semua gampang dan cepat. Sebenarnya nama lengkapku adalah lampu lalu lintas, memang tidak lebih keren dari lampu merah, tapi itu lebih mewakili diriku. Kalau boleh jujur, aku kepengen dipanggil dengan nama yang lebih keren kayak Robert atau Michael atau yang lainnya. Tapi aku pesimis, mana ada manusia baik yang sudi memberiku nama sebagus itu.

Aku memang tidak bisa kemana-mana. Aku hanya bisa nongkrong di sudut lampu merah Pasar Kasang bersama beberapa temanku yang berdiri di sudut lain. Pasar Kasang adalah pasar tradisional yang tidak terlalu ramai. Pasar ini lebih kecil dibandingkan dengan pasar Angsoduo yang lebih besar dan menjual barang lebih murah. Aku mendengar fakta ini dari percakapan dua ibu-ibu yang suatu hari berdiri di sampingku menunggu angkutan umum.  Aku berdiri di sisi jalan utama yang lebih luas dibandingkan teman-temanku. Jalan ini dibagi dua sehingga kendaraan yang berlalu lalang tidak akan bertabrakan kecuali ada pengendara yang mabuk dan tidak sadar melewati pembatas tengah jalan yang setinggi mata kaki orang dewasa. Teman-temanku lebih tidak beruntung dari pada aku. Temanku yang berdiri di sisi jalan menuju daerah Talangsari selalu memasang muka masam. Jalan ini cukup kecil sehingga kalau ada truk yang berhenti saat temanku menyalakan lampu merah, kendaraan roda empat lain yang bisa langsung karena belok kiri tidak akan bisa lewat dan membuat kemacetan kecil.

Sebenarnya, sebagai benda mati ciptaan manusia, aku tidak punya kodrat untuk mengeluh apa lagi marah dengan penciptaku. Tapi aku sudah tidak tahan lagi. Begitu banyak hal yang membuat aku bingung dan bertanya-tanya, apa sebenarnya tujuan manusia menciptakanku? Apakah hanya sekedar penghias jalan biar berkesan kalau jalan itu kelihatan bagus karena aku dan teman-temanku yang selalu berganti warna dalam tempo waktu tertentu? Atau karena manusia berharap agar mereka mematuhi  peraturan yang mereka buat melalui kami? Agak bingung aku dengan pertanyaanku yang terakhir ini. Tapi begitulah yang aku rasakan, aku memang bingung.

Aku sangat mahfum bahwa fungsi utamaku diciptakan manusia adalah membantu mereka terhindar dari tabrakan di persimpangan. Coba bayangkan jika ada empat kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi dari empat arah yang berbeda di saat yang bersamaan, apa yang terjadi? Dengan adanya aku dan teman-temanku, tabrakan bisa dihindari. Di saat ketiga temanku menyalakan lampu merah mereka agar para pengendara di jalan mereka behenti, aku menyalakan lampu hijauku mempersilahkan pengendara di jalanku untuk melaju. Jika malam tiba, kami bersama-sama menyalakan lampu kuning kami agar pengendara berhati-hati. Kurang baik apa coba? Walau kena panas dan hujan sepanjang tahun, aku tetap menjalankan tugasku dengan baik dan ikhlas (mudah-mudahan mahluk seperti aku boleh menggunakan kata terakhir ini). Kami sadar bahwa itulah tujuan penciptaan kami.

Tapi, sudah sedemikian baiknya aku dan teman-temanku, masih saja banyak manusia yang tidak memperdulikan keberadaaan kami. Di persimpangan di tempat aku dipancang, hampir semua tidak peduli dengan warna lampu yang aku nyalakan. Mau merah, mau hijau, atau kuning, hampir semua pengendara tetap melaju dengan rasa tidak berdosa. Hebatnya lagi, di saat aku menyalakan lampu merahku, pengendara itu melirikpun tidak ke arahku. Tetap saja mereka meluncur dengan kecepatan tinggi menerobos jalan tanpa ada rasa takut atau bersalah.

Banyak kejadian aneh, lucu, dan mengerikan yang aku saksikan di persimpangan tempat aku ditugaskan. Suatu ketika, ada seorang ibu-ibu berbadan besar mengendarai sepeda motor bebeknya melaju di jalanku. Dalam hati aku tersenyum geli, ibu itu berbadan cukup besar sehingga aku hampir tidak bisa melihat motor bebek yang dikendarainya karena hampir tertutup dengan tubuhnya yang mengenakan baju daster putih bermotif kembang sepatu besar-besar berwarna merah. Aku sudah menyalakan lampu merahku, tapi ibu itu tidak menoleh sedikitpun ke arahku dan tetap melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Aku mau berteriak mengingatkan ibu itu untuk berhenti karena dari jalan sebelah kiri, temanku menyalakan lampu hijau dan kendaraan-kendaraan melaju dengan kencangnya seperti baru start balap motor dan mobil. Tapi aku diciptakan tidak dengan kemampuan untuk berbicara. Si ibu ini entah bodoh atau tidak bisa berpikir (apakah sama artinya?), melaju dengan tenangnya tanpa melihat begitu banyak kendaraan yang meluncur dari arah kiri. Akhirnya yang aku takutkanpun terjadi. Sebuah angkutan umum berwarna kuningpun menghantam sisi kiri si ibu yang langsung terjatuh ke kanan persis di tengah jalan. Ibu itu mendarat di jalan dengan posisi menghimpit motornya. Sontak suasana persimpangan berubah kacau karena semua kendaraan berhenti terhalang angkutan umum, si ibu, dan motornya yang memenuhi jalan. Sang sopir angkutan umum segera keluar menghampiri si ibu yang sedang meringis kesakitan di atas motornya dan meluncurlahlah kata-kata makian indah dari bibirnya yang bergincu oranye: “Hei! Monyet! Dimana kau simpan matamu? Di pantatmu ya? Badanku sebesar ini tidak bisa kau lihat?”. Si sopirpun menjawab: “Lho? Justru ibu yang tidak melihat pakai mata, jelas-jelas lampu lagi merah, ibu main terobos aja”, si sopir tidak mau disalahkan. Aku mendukung si sopir walau sebenarnya aku tidak suka dengan sopir angkutan umum karena kalau didata, merekalah yang paling tidak peduli dengan keberadaan lampu merah, mereka menerobos lampu merah sesukanya demi mendapatkan seorang penumpang yang belum tentu juga mau naik ke mobil mereka. Si ibu tadi masih berusaha membela diri: “Memangnya selama ini di persimpangan ini orang-orang pada peduli dengan lampu merah? Mau merah kek, hijau kek, hitam kek, tetap saja kita semua bisa melaju, asal tahu sama tahu saja, biar jangan saling tabrakan”. Sampai disitu hatiku merasa panas.  Ternyata memang keberadaanku tidak pernah dianggap selama ini. Dengan gamblangnya si ibu itu mengatakan kalau aku tidak ada fungsinya sama sekali dan dengan seenaknya dia bilang aku punya lampu berwarna hitam. Hilang rasa kasihanku terhadap ibu itu, hatiku terlanjur sakit dibuatnya.  BERSAMBUNG (LT)

08 August, 2009

mengapa tidak kau tutup saja mata cemoohmu yang selalu memandang seperti seonggok kotoran kau lupa bahwa kotoran itu yang selalu kau makan kau kejar kejar siang dan malam aku tidak pernah mengadilimu untuk bilang sesuatu itu salah

30 July, 2009

Kucing

Kehidupan Fauzan yang memang sangat sederhana. Ayahnya adalah tenaga honor yang bekerja sebagai pelayan sekolah. Janji kepala sekolah yang akan membantunya agar bisa diangkat menjadi pegawai negeri diucapkan 15 tahun yang lalu, bahkan sebelum fauzan dan adiknya Dewi lahir. Namun kenyataannya hingga kini Ayah Fauzan tetap menjadi tenaga honor hingga fauzan masuk SMP tahun ini. Ibu Fauzan yang tidak bekerja hanya sesekali menerima upah jahitan dari tetangga. TIdak banyak jahitan yang bisa diterima karena kondisi mesin jahit ibu Fauzan lebih sering rusaknya dari pada baiknya. Maklumlah, mesin itupun sebenarnya peninggalan dari nenek ibu Fauzan yang dibuat pada masa penjajahan Belanda. Terkadang Fauzan merasa kalau kalimat bijak yang menyatakan bahwa 'hidup itu seperti roda berputar, kadang di atas, kadang dibawah' kurang tepat baginya dan keluarganya. Dia merasa kalau hidupnya adalah roda yang berjalan di atas jalan yang sangat licin. Karena jalan terlalu licin, rodanya jarang berputar, sehingga bagian bawah tetap di bawah dan tidak berputar ke atas. Meski demikian, kehidupan keluarga Fauzan berjalan bahagia. Memang karena kebahagiaan itu relatif sifatnya, jadi merekapun merasa bahagia dengan apa yang mereka miliki.

Setiap hari Fauzan dan Dewi menumpang ayah mereka yang membonceng sepeda motor butut bantuan dari sekolah untuk pergi ke sekolah mereka masing-masing. Fauzan diantar terlebih dahulu karena Dewi bersekolah di SD tempat ayah mereka bekerja. Fauzan mempunyai seorang teman wanita yang sangat baik kepadanya. Namanya Pipit. Pipit adalah gadis manis putri seorang juragan semen. Persahabatan mereka dimulai saat mereka harus duduk sebangku awal pertama masuk SMP. Walaupun Pipit adalah anak orang berada dan pintar, dia tidak sungkan-sungkan untuk berteman dengan Fauzan. Walau mereka baru sebulan berteman, tapi mereka sangat akrab.

Suatu hari Pipit mengundang Fauzan untuk makan malam bersama keluarganya di restoran mahal. Awalnya Fauzan menolak undangan tersebut karena merasa sungkan. Tapi Pipit setengah memaksanya dan bilang kalau papa dan mamanya ingin sekali bertemu dengan Fauzan. Akhirnya Fauzanpun menyetujuinya. Sesampai dirumah, Fauzan langsung bercerita kepada ibunya tentang undangan tersebut. Ibunya langsung menyiapkan pakaian terbaik yang Fauzan punya, sebuah kemeja kotak-kotak coklat dan celana panjang hitam yang dibeli sebelum lebaran dua tahun lalu. Lebaran tahun ini Fauzan tidak beli baju baru.

Pukul setengah tujuh petang Fauzan telah bersiap di depan teras rumahnya. Pakainnya rapi, rambutnya licin mengkilat terkena cahaya lampu. Akhirnya sebuah mobil jenis sedan berhenti di depan rumahnya. Fauzanpun naik ke sedan itu. Tidak banyak percakapan yang terjadi antara Fauzan dan keluarga Pipit di sedan karena restoran yang dituju tidak jauh dari tempat tinggal mereka.

Tibalah mereka di sebuah restoran mewah yang dihiasi dengan lampu-lampu berwarna-warni. Seorang pelayan mengantar Fauzan dan Pipit sekeluarga ke meja yang telah dipesan sebelumnya. Fauzan duduk berdampingan dengan Pipit yang tampak cantik malam itu, berhadapan dengan papa dan mama Pipit. Berbagai macam makananpun mengalir tak henti. Fauzan merasa perutnya mau meledak karena kekenyangan, tapi papa dan mamam Pipit selalu memaksanya untuk tambah dan tambah lagi. Fauzan merasa sangat heran, baik Pipit, papa, dan mamanya hanya makan sedikit sekali. Ikan bakar dan ayam panggang yang dipesan nyaris tidak mereka sentuh. Banyak sekali makanan yang tersisa di meja mereka.

Memang Fauzan anak yang baik, setelah semua berhenti makan karena kekenyangan, Fauzan teringat dengan Dewi, ayah, dan ibunya dirumah. Fauzan pikir alangkah senangnya mereka jika dia membawa makanan-makanan yang jarang mereka makan ini ke rumah. Tapi Fauzan terlalu malu untuk jujur ke keluarga Pipit. Akhirnya akal jitu muncul di pikiran Fauzan. Dia membisikkan sesuatu kepada Pipit dan Pipitpun mengangguk senang. Setelah itu Pipit langsung bicara kepada papa dan mamanya. Pipit bilang kalau Fauzan minta ijin untuk membawa pulang makanan-makan di meja untuk diberikan kepada dua ekor kucing yang dipelihara Fauzan. Orangtua Pipit langsung menggangguk memberi ijin. Papa Pipitpun langsung memanggil seorang pelayan restoran untuk membungkus semua sisa makanan yang mereka pesan dan juga meminta pelayan tersebut untuk menambahnya dengan sisa-sisa makanan lain yang ada di restoran itu. Fauzan merasa mukanya menjadi panas, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak lama kemudian, pelayan restoran itu muncul kembali dengan satu kantong plastik besar sisa-sisa makanan yang ada di restoran itu yang digabung menjadi satu dan diberikan kepada Fauzan. Fauzan merasa ingin segera sampai di rumah.

21 July, 2009

Saya Bisa Naik Kereta





Mungkin bagi kita yang diberi penglihatan sempurna, tidak ada yang istimewa dengan jalur khusus ini. Jalur ini sengaja dibuat berbeda dengan permukaaan yang lebih menonjol dan kasar dibandingkan dengan lantai pada umumnya. Yang jelas, jika kita menginjak jalur ini, kita bisa merasakan permukaannya yang kasar dan berbeda dengan lantai pada umumny. Jalur ini sederhana saja buat kita tapi bagi mereka yang hanya ditemani kegelapan sepanjang hidupnya, jalur ini menjadi begitu berarti untuk membantu mereka agar tetap bisa menikmati fasilitas umum, untuk naik turun tangga, membeli tiket kereta dan naik kereta tanpa harus tergantung orang lain. Mereka jadi bisa mandiri. Jalur khusus ini tidak hanya ditemui di stasiun kereta api, tapi juga di tempat-tempat umum lain. Selalu merasa senang melihatnya.

04 July, 2009

Mimpi-Mimpi Ketenu 2

Hari ini aku bertemu Ketenu. Dia sedang menjemur pakaian di belakang rumah yang berpanggung lebar dikelilingi hamparan kolam kangkung. Tidak seperti biasanya dia hanya memandangku sekilas dan memanggilku ala kadarnya. Akupun tidak ingin tahu lebih jauh dan sibuk membaca koran yang penuh dengan iklan kampanye pemilihan presiden, hingga aku bingung berita apa yang bisa aku baca hari ini. Ketenu akhirnya selesai dengan tugasnya menjemur pakaian. Dia tetap diam dan pipinya yang seperti mau 'tumpah' semakin bulat karena dia menutup mulutnya rapat-rapat dengan tegas seperti orang yang sedang berusaha menahan rasa sakit atau takut.
Akhirnya dia menawarkanku segelas teh dengan setengah terpaksa. Aku tidak bisa menahan rasa penasaranku, kutanya dia hati-hati. Kutanya mengapa dia seperti orang yang sedang khawatir dan bingung. Awalnya dia bilang tidak ada apa-apa. Akupun tidak memaksa. Tapi tidak lama setelah menghidangkan teh manis untukku tiba-tiba tangisnya pecah. Dia menangis sambil mulai mencuci piring sambil sesekali menyeka matanya dengan celemeknya yang aku yakin awalnya berwarna putih tapi sudah berubah menjadi abu-abu. Bingung tapi geli juga melihat pemandangan itu. Pelan-pelan sambil tersedu dia mulai bercerita. Dia bilang beberapa hari yang lalu dia berkenalan dengan seorang laki-laki lewat handphone. Awalnya dia iseng menekan nomor telepon kemudian dia menghubungi nomor tersebut. Sebelum diangkat Ketenu tutup telepon itu. Aku langsung menyela, kok dia bisa-bisanya melakukan itu, dengan entengnya dia menjawab, iseng-iseng berhadiah. Aku tidak terlalu mengerti tapi tetap menganggukkan kepala agar dia segera melanjutkan ceritanya. Akhirnya orang yang dia telepon itu meneleponnya kembali.
Mulai saat itu si laki-laki suka menghubungi Ketenu baik menelepon atau lewat pesan. Ketika aku bertanya mengapa Ketenu meladeni laki-laki tersebut lagi-lagi dia memberi jawaban polos yang membuatku sedikit kesal, dia hanya bilang "Suaranya bagus, kayaknya orangnya ganteng, Bang, dia juga bilang suaraku merdu sekali kalau ditelepon, pasti aku cantik, gitu Bang". Aku jadi ingin minum dua gelas teh lagi mendengarnya. Lalu aku balas, "kalau demikian apa masalahnya, kan kalian sama-sama ganteng dan cantik." Sontak pipi Ketenu kembali mau 'tumpah'. "Abang menghina saya ya? mentang-mentang saya jelek." "Bukan begitu, lantas apa masalahnya? kan kalian sama-sama tertarik, ya nggak apa-apa," jawabku. Ketenu mulai menangis lagi dan dengan terisak-isak dia bilang, "Dia sudah punya istri Bang, anaknya sudah tiga, dia tinggal di kampung, dia di sini kerja jadi sopir truk, saya nggak mau mengganggu keluarga orang." Baru aku mengerti masalahnya, tapi tetap saja aku tidak terlalu mengerti mengapa Ketenu begitu khawatir. "Ya kalau begitu kamu tinggal memberitahu laki-laki itu baik-baik kalau kamu tidak mau diganggu lagi dan kamu tidak mau merusak rumahtangganya," nasehatku. Tangisnya semakin nyaring, "Masalahnya saya sudah memberitahu alamat rumah Bapak di sini Bang, tadi malam dia sudah datang, tapi pagar saya kunci dan tidak saya buka, untungnya bapak sama ibu sedang tidak ada di rumah, saya lihat dari balik jendela orangnya seram Bang, tinggi besar berewokan, dan nanti malam dia bilang mau kesini lagi, matilah saya Bang, bagaimana kalau sampai bapak tahu, saya bisa dipecat,"Ketenu mulai menangis histeris sambil menutup mukanya dengan celemeknya. Aku pelan-pelan menaruh gelas tehku ke atas meja siap-siap untuk kabur karena aku bingung harus bilang apa lagi. Aku sempat terpikir untuk membantu Ketenu dengan menjelaskn ke pada laki-laki itu nanti malam. Tapi mengingat ciri-ciri fisik yang digambarkan oleh Ketenu secepat mungkin aku menghapus ideku yang sangat mengerikan itu. Akhirnya aku menyarankan Ketenu untuk bicara jujur kepada majikannya agar majikannya bisa langsung bicara dengan laki-laki tersebut. Awalnya Ketenu ragu dengan saranku itu, tapi akhirnya dia setuju juga karena dia sudah tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan.
Singkat cerita, laki-laki yang mencari Ketenu itupun datang ke rumah majikan Ketenu dan majikan Ketenu mampu menyelesaikan masalah dengan baik. Lak-laki itu akhirnya pamit pulang dan berjanji tidak akan menggangu Ketenu lagi. Kami yang mencuri dengar dari kamar Ketenu dapat bernafas dengan lega.
Keesokan harinya aku kembali mampir ke rumah temanku itu dan seperti biasa aku menyempatkan diriku melongok ke dapur dan menyapa Ketenu yang sedang bersenandung dangdut dengan girangnya. Karena penasaran akupun bertanya padanya kenapa dia begitu gembira. Dengan polos dan gembiranya dia menjawab. "Bang, Tenu baru kenalan sama cowok lewat telepon Bang, suaranya bagus bang, kayak suara abang," Ketenu menutup kalimatnya dengan tawa cekikikan. Tanpa sadar aku membiarkan mulutku ternganga untuk beberapa menit setelah itu. (LT)

Willemsweg, 28-5, Nijmegen 6531 DL, Netherlands

dan malampun menjemput pagi


mimpi panjang hampir usai

ku pandangi setiap sudut

memang harus pergi
sekian lama menemani

mengerti semua duka

tersenyum di kala suka

simpan saja ceritaku

kabarkan kepada yang akan datang

bahwa semua adalah anugerah

terima kasih untuk semuanya sayang..

( 00'31AM, 4th of July, 2009, the last night 

in Nijmegen)

 

 

03 July, 2009

perahu kecil hampir tiba di tepi

teriakan ombak terdengar sayup tak sabar bertemu

letih dan lelah berlayar sebentar tak lama lagi usai