Translate

04 February, 2013

Rumah Batu Jambi (Semoga bukan rindu yang berkelebihan)


20130101_154931(1)Hujan beberapa hari ini terlalu banyak. Batangharipun tak mampu menampung  semua air hingga akhirnya membaginya  dengan bagian bawah rumah –rumah di sepanjang tepiannya. Biarlah, mungkin air itu merindu dendam dengan rumah-rumah itu. Toh ia cuma mampir setahun sekali.  Ia hanya sekedar mengintip dari celah-celah lantai papan mencuri dengar celoteh anak-anak  yang berkeluh kesah tentang sulitnya ujian hari ini atau omelan panjang pendek ibu-ibu rumah tangga tentang mahalnya harga bahan makanan saat ini.
20130101_155007Namun ternyata air tidak tega menyentuh rumah yang satu ini. Ia hanya berhenti sampai di pinggir gerbang rumah berkepala naga yang kokoh nan tua. Mereka berdua pasti sahabat lama, walau hanya berjumpa setahun sekali atau lebih, air akan selalu kembali menghampiri si gerbang untuk berbincang beberapa hari. Aku yakin, mereka berdua pasti sibuk bercengkerama mengenang masa lalu sekitar dua ratus tahun yang lalu ketika rumah milik si gerbang masih indah terjaga. Kemana gerbang-gerbang lain? Mereka lebih memilih bersahabat dengan jalan-jalan modern yang dibangun di depan sana. Mereka memilih membelakangi air, menyisakan kakus dan dan kamar mandi saja yang menjadi sahabatnya. Tapi tidak mengapa, air mau saja bersahabat dengan apapun selama mereka saling menghormati tapi ketika air hanya dijadikan sarana pembuangan, dia juga bisa marah, seperti kita. Ketika air marah, dia bisa naik sampai ke lantai-lantai rumah mencari penghuninya untuk diajak bicara.
20130101_154828Kutebarkan pandanganku ke rumah yang bertengger kokoh menghadap sungai sungai Batanghari itu. Ingatanku terbang ke beberapa tahun yang lalu ketika aku sempat tinggal di Belanda. Sebegitu bangga dan cintanya rakyatnya dengan sungai atau kanal yang kebanyakan mereka buat paksa. Rumah dan gedung-gedung modern dibangun menghadap ke sungai dan kanal itu. Jalan-jalan dibentang sebagai pembatas antara rumah mereka dan kanal. Taman-taman indah nan sederhana dengan kursi-kursi ditata menghadap ke sungai atau kanal. Di sore hari dan petang hari orang-orang menikmati secangkir kopi hangat menikmati senggang di senja tepi sungai temaram.  Siapa yang ingin menampik keindahan itu? Kita. Hampir semua rumah di daerah ini sekarang hanya menyisakan punggung mereka kepada sungai.
Rumah batu ini sekarang sunyi. Tiada denyut ditemui. Dinding batu lantai dasar telah terkelupas di sana-sini, meninggalkan pecahan keramik yang dulunya digunakan sebagai ornamen dinding. Bagian lantai dua bahkan lebih parah karena terbuat dari kayu yang tak sanggup menahan gempuran waktu yang datang panjang tak terbendung  menyisakan  lapuk dan rapuh. Beberapa alat masak kuno seperti kuali besar teronggok di dalam ruangan. Kudengar rumah ini telah dijadikan sebagai cagar budaya. Tapi cukupkah status itu? Hanya sebatas itukah yang bisa kita dilakukan?
20130101_154754Semoga bukan sebuah rindu yang berkelebihan, jika memang rumah batu ini rindu bercerita tentang sejarah Jambi Seberang, berikanlah ia kelayakan untuk bisa tetap berdiri kokoh sembari melanjutkan persahabatan abadinya dengan Batanghari dengan saling bertegur sapa di pagi hari. Biarkanlah dinding-dinding batunya berceloteh panjang lebar tentang keindahan sejarah Jambi yang tak berlekang waktu. Suatu saat jika mampu, biarlah aku saja yang mengumpulkan keping-keping rindunya, tentang suatu masa, ketika ia indah tapi bersahaja. Semoga bukan sebuah rindu yang berkelebihan.

Rumah Kolonel Abunjani



2013-01-03 23.43.25“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.” Terlalu sering kita mendengar atau membaca kalimat ini terutama di momen perayaan hari Pahlawan dan hari kemerdekaan Indonesia. Memang sudah seharusnya kita selalu ingat dan mengormati jasa orang-orang hebat masa lalu yang berjuang untuk kemerdekaan negara ini karena tanpa pengorbanan mereka, kita tidak akan dapat mengecap manisnya hidup merdeka seperti sekarang. Namun pada kenyataannya kalimat bijak itu sering berakhir di batas wacana diskusi belaka. Pengabaian masih terjadi kepada mereka yang dulunya mempertaruhkan jiwa raga untuk meraih kemerdekaan.  Baru-baru ini aku berkunjung ke sebuah tempat yang menyimpan sepenggal sejarah dan budaya tak ternilai yang dapat dijadikan teladan oleh generasi muda, milik seorang tokoh besar, pahlawan nasional Indonesia asal Jambi bernama Kolonel Abundjani . Sekelumit kisah perjuangan almarhum Kolonel Abundjani bisa dilihat di http://museumperjuanganrakyatjambi.blogspot.com/2012/07/dialog-sejarah.html.
Menurutku, rumah peninggalan almarhum Kolonel Abundjani ini memiliki nilai pembelajaran yang sangat berharga dan penting untuk kita pelajari. Kiprah Kolonel Abundjani sebagai seorang pejuang Indonesia dan sebagai seorang pengusaha hebat di zamannya dapat kita gali dan pelajari di rumah elok ini. Namun setakat ini, sejauh yang aku tahu, rumah ini terbengkalai tidak mendapat perhatian. Aku tidak terlalu paham apa alasan pemerintah tidak berinisiatif mengambil alih untuk melestarikan rumah ini. Apakah rumah ini tidak pantas untuk dijadikan sebagai aset warisan sejarah dan budaya?  Aku tidak tahu jawabannya. Yang jelas, aku pribadi merasa rumah ini menyimpan begitu banyak hal yang bisa aku pelajari, dari mulai tentang perjuangan rakyat Jambi yang dipimpin oleh Kolonel Abundjani sampai dengan benda-benda bernilai seni tinggi yang bisa dijumpai di rumah tersebut. Untuk itu, aku mengajak kalian yang tertarik untuk masuk dan menikmati keindahan rumah tersebut. Satu hal yang sangat merisaukanku adalah rumah ini akan segera dijual kepada pihak manapun yang tertarik untuk membeli,  dan berdasarkan informasi dari keturunan langsung Kolonel Abundjani, ada beberapa pihak swasta dan asing yang tertarik untuk membeli lahan rumah ini. Mereka akan menghancurkan rumah ini, meratakannya dengan tanah karena mereka tidak tertarik dengan nilai-nilai sejarah dan budaya yang ada di rumah itu. Mereka hanya menginginkan lahan rumah yang tentu saja sangat strategis karena berlokasi tepat di daerah pusat perkantoran pemerintahan Provinsi Jambi.

rmh utama bagusJumat, 4 Januari, langkah ini terjejak di sebuah rumah yang menghamburkan begitu banyak informasi yang memang ingin kudapat setelah sekian lama.    Sejak awal, rumah ini membuatku dan temanku, Oddie kewalahan menghadapai ribuan pertanyaan yang berhamburan dari alam pikiran kami masing-masing tanpa sempat mendapat dan memberi jawab. Rumah almarhum Kolonel Abundjani, orang hebat Jambi yang pernah pada suatu ketika turut serta mempersiapkan negeri ini menjadi sebuah negara merdeka  yang bisa kita nikmati sekarang dan nanti. Selama ini sebagai anak Jambi aku hanya sebatas melintas di depan rumah besar itu dengan kecamuk tanya tanpa ada niat untuk mencari jawab. Tapi hari itu akhirnya hampir semua tanya terjawab diiringi dengan pertanyaan-pertanyaan baru yang lebih banyak lagi. Akhirnya kami menginjakkan di pekarangan rumah yang luas ini. Sebuah rumah megah berdiri gagah menghadap hamparan rumput, pohon-pohon, dan sebuah taman kecil di tengahnya. Rumah ini dibangun di atas tanah yang lebih tinggi sehingga, jika kita berdiri di teras, kita dapat memandang taman dan rerumputan tanpa penghalang. Keraguan muncul ketika kami mengetuk pintu utama rumah itu beberapa kali dan tidak ada yang membukakan pintu. Kami berinisiatif mengitari rumah dan memeriksa sisi kanan belakang rumah yang ternyata masih memiliki bangunan lain yang terpisah dengan rumah utama yang terletak memanjang memanjang seperi faviliun.  Singkat cerita, akhirnya kami diberi kesempatan untuk melakukan tur mengelilingi rumah itu yang kami mulai dari bagian belakang.
2013-01-03 21.46.17Bagian pertama yang langsung menarik perhatianku adalah sebuah kolam renang yang terletak di bagian belakang rumah. Meskipun kolam itu tidak terawat karena sudah tidak dipakai sekian lama, bentuk kolam itu tetap mencuri perhatian. Kolam ini dilengkapi dengan luncuran dan tangga untuk naik ke atas. Kolam itu berbentuk angka delapan yang belakangan kami ketahui memiliki makna khusus. Yang pertama angka delapan itu sesuai dengan jumlah anak Almarhum Kolonel Abundjani yang memang berjumlah delapan, dua putra dan enam putri. Makna lain yang kami peroleh adalah bentuk angka delapan tersebut dapat juga melambangkan bulan Agustus sebagai bulan kemerdekaan Republik Indonesia.
mobil Di bagian belakang bangunan berbentuk faviliun, aku menemukan sebuah garasi dengan sebuah mobil jenis sedan bertengger di dalamnya. Meskipun terlihat jelas bahwa mobil ini sudah tua, aku masih bisa membayangkan mobil ini pasti termasuk dalam golongan mobil mewah pada masanya. Tidak banyak informasi yang aku peroleh, tapi menurut anggota keluarga almarhum Abundjani, mobil ini mobil langka yang hanya diproduksi tiga unit. Salah satunya adalah yang dimiliki oleh Almarhum Abundjani ini.


 

tampakataslg Kemudian aku naik ke atas atap garasi yang melalui sebuah tangga beton yang sangat kokoh meskipun tangga ini sudah dibangun setelah sekian lama. Kekagumanku adalah bagian atap garasi itu terbuat dari beton kuat, datar, luas, dipagari dengar pagar tembok setinggi kira-kira satu meter dan terhubung dengan bagian lantai dua atas faviliun, terus sampai ke lantai dua rumah utama. Bahkan menurut cerita keturunan Abundjani, bagian lantai dua rumah utama digunakan sebagai landasan helikopter dulunya. Aku dapat membayangkan alangkah nikmatnya duduk-duduk di lantai ini, bercengkerama sambil menikmati secangkir teh atau kopi panas di bawah malam bercahayakan sinar bulan.  Alangkah romantisnya sang pemilik rumah ini.
lantaiSetelah puas menikmati luas dan uniknya bagian belakang rumah ini, aku dan temanku berkesempatan untuk masuk ke dalam rumah utama. Kali ini lain lagi keindahan-keindahan gratis yang kami dapati. Bagian pertama yang langsung aku dekati adalah lantai rumah yang dari jauh terlihat seperti hamparan karpet dengan pola motif berbeda. Ketika didekati ternyata itu lantai keras yang didesain sedemikian rupa dengan warna berbeda sehingga terlihat seperti karpet. Lantai di setiap ruas ruang memilki motif dengan perpaduan warna berbeda. Aku juga melihat beberapa meja dengan koleksi foto-foto lama di antaranya adalah foto Kolonel Abundjani dengan, Soekarno, Muhammad Hatta, Soeharto dan lain-lain. Aku sempat bergumam dalam hati foto-foto itu pasti akan mampu bercerita banyak tentang perjuangan bangsa Indonesia dulu.
lukisan ruang depanBagian lain yang membuatku tidak berhenti berdecak kagum adalah bagian dinding rumah yang kalau boleh aku sebut relief indah tak terkira. Hampir di setiap ruas dinding terpahat relief-relief dengan berbagai macam bentuk gambar dengan warna-warna indah, mulai dari pahatan beberapa wanita, sepasang pria dan wanita, sekumpulan rusa, sekumpulan angsa, seekor harimau, hingga pahatan sayur mayur dan buah-buahan yang khusus dipahat di dinding ruang makan.
relief ruangtamu2lukisan ruang depan lg
Aku bukan seorang ahli seni pahat. Tapi aku yakin sekali bahwa pencipta relief-relief ini sungguh luar biasa hebat. Seluruh pahatan dibuat sangat detail sehingga jika dilihat dari kejauhan, relief-relief itu kelihatan seperti lukisan. Aku tak bosan-bosan meraba semua relief yang ada untuk memastikan bahwa mataku tidak sedang ditipu. Hasilnya aku memang bisa  merasakan kulit buah nenas yang kasar atau setangkai anggur yang terjuntai atau kain relief wanita yang berpakaian tradisonal dari Minang . Informasi yang aku peroleh dari keturunan almarhum Abundjani jumlah relief yang ada di seluruh dinding rumah ini adalah empat puluh lima yang menandakan tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Tak mampu aku bayangkan puluhan tahun yang lalu seorang Abundjani telah terpikir untuk menikmati seni indah ini dengan mengabadikannya di dinding rumahnya. Kolam renang yang berbentuk angka delapan, relief yang berjumlah emat puluh lima, dan terakhir aku diberitahu bahwa jumlah kamar di rumah ini adalah tujuh belas, Perlambangan hari kemerdekaan Republik Indonesia dari seorang Abundjani yang sangat nasioanalis.
$jendela utamaMelintasi setiap ruangan, aku harus behenti menikmati  keindahan setiap jendela dan pintu rumah yang dipasang jeruji besi bermotif gadis-gadis berpakaian tradisional Minang sedang menari tari lilin yang melegenda itu. Pekerjaan merancang besi-besi jeruji  menjadi bentuk unik di seluruh pintu dan jendela pastilah bukan suatu kegiatan mudah. Agak susah aku membayangkan tingkat kerumitan para ahli yang membuatnya dulu, masa yang tidak secanggih sekarang. Aku juga bertanya-tanya mengapa almarhum mendesain jeruji-jeruji itu dengan bentuk gadis Minang menari. Abundjani adalah Putra Jambi yang lahir di Jambi yaitu itu di Batang Asai. Mungkin alasan sederhananya adalah  beliau memang cinta dengan budaya indonesia nan kaya.
lemariradioLelah aku menahan gempuran pikiranku yang tak henti-hentinya melemparkan pertanyaan-pertanyaan tak berujung. Banyak perabotan yang menurut mata kasarku bisa dikategorikan antik masih terpajang dengan rapi di rumah itu. Aku menemukan beberapa lemari terbuat dari jati kokoh yang masih terlihat baru dan bagus. Di samping tangga untuk naik ke lantai dua, aku sempat terkesiap melihat piano kayu dan radio kuno sebesar mesin cuci  terpajang rapi. Aku yakin pemilik rumah ini pecinta seni sejati.
bawah tanah lgKeunikan lain dari rumah almarhum Kolonel Abundjani ini adalah 3 ruangan bawah tanah yang terletak di bawah garasi dan rumah utama. Aku tidak tahu pasti tujuan dibangunnya bunker-bunker ini. Aku berasumsi mungkin ruangan ini dulu digunakan sebagai tempat persembunyian jika sewaktu-waktu pecah perang. Yang jelas saat ini ruangan-ruangan itu digunakan sebagai tempat penyimpanan.
Terlalu banyak keindahan-keindahan yang aku temukan di rumah ini dan aku takkan sanggup menceritakan semuanya di sini. Satu hal yang pasti adalah, aku yang awam merasa alangkah sayangnya jika rumah ini harus dihancurkan. Ada begitu banyak nilai sejarah dan seni yang mampu memberikan kita pembelajaran tiada tara. Cerita bagaimana seorang Abundjani memimpin memimpin dan mengatur strategi perang melawan Belanda pasca kemerdekaan dan bagaimana seorang Abundjani menajadi seorang pengusaha sukses di Jambi bahkan di asia dapat menginsinspirasi kita sebagai generasi muda yang terlahir beruntung di sebuah alam merdeka. Semoga mereka yang berwenang terketuk pintu hatinya menyelamatkan aset bangsa ini,  amin.








06 January, 2013

One Great Class



Muarojambi Temple
Muarojambi TempleI live in a small city called Jambi, located in Jambi Province,  Sumatera, Indonesia. Jambi is a less traveled and visited province in my opinion because there are not many tourist objects that can be explored here. Despite all those facts, I confidently say that Jambi is still a safe and good place to visit or  to live in. There is not much traffic jam and people from different races and religions can live in harmony. There are some interesting spots that can be explored in Jambi. We have the longest beautiful river in Sumatera called Batanghari river, cutting Jambi city into two. We also have Muarojambi temple Complex which is categorized as one of the largest Temple Areas in Southeast Asia and is being processed to be one the world heritage by UNICEF. Another  interesting thing is that you can enjoy in Jambi is the amazing varieties of Jambi traditional food that can be found in luxurious restaurants, small cafes along the Batanghari river bank or small vendors along the streets in the city which offer amazing kinds of food and healthy herbal drinks to warm up your body in the evening.

Batanghari RiverIn the first part of my writing, I share some stories about Jambi city, but actually I want to share more about my one special kind of class.  I live in an area where I can still meet some children who must work hard to survive. They generally go to school in the morning and finish their school activities at 1 PM. After they arrive at home, they mostly do things to help their parents. Some will go to the rice field to deal with rice, vegetables, or and fruits. Some stronger boys will choose to join their fathers building houses. Some just stay at home spending their times for nothing. When they are asked why they should work to help their parents and why they don’t do things they like such as doing sports, having extra lessons in private courses or just hanging out with their friends, they give me the answer that I think I already know. They just don’t have much time and money to do them. There are other better things to do to support their parents to earn more money to be able to fulfill their daily needs called ‘food’. We all know that food is something that human beings like us need consistently in order to survive. This is the challenge that many families have in my area. They have to buy rice as their main food and other kinds of food. Their daily income is just not enough to buy all of them  sometimes. This is the main reason why they mostly work harder spending their time trying to get extra income to support their families.

an Outdoor Class with Some CouchSurfing FriendsOne challenging fact that I see from the children’s situation is that they are just able to finish their basic education, senior high school or even junior high school. They mostly cannot continue their study to the higher level because of the ‘cliché’ reason, no money. It is just too much for their parents, they need to focus more on how to provide food to survive. For me, this phenomenon is not good. If they are not able to continue their study to the higher level, they will not have many options to get proper jobs with proper payment after they graduate. In my place, getting proper jobs is not an easy thing. Education is still something that many employers consider a lot. They may still get a job of course, but their jobs may not be able to give them a life that they want, which is to be able to live better economically. In other words, they will mostly end up living in the same condition as their father and mother. This is what generally happens here in my surroundings.

a Friend teaching some students One simple thing that I and some good friends of mine can do for these children is motivating them to learn English in a special class in my house. I and friends coming from different educational background, establish an informal English class where all the children coming from different ages can study and practice their English together. They don’t pay anything to join this class.  So far we have about 25 children who come to study twice a week every Tuesday and Friday Evening. Why English? because it is important for them. They may have learned English in school, but the fact says that in my place, even though English is taught in schools, students are still not able to use English as it should be, which is to speak English or to write in English. It happens in many schools in Indonesia. We simply hope that by helping them to know more about English, they can improve their self-quality that maybe useful for their future. Beside English, we also discuss many simple things with the children. We can talk about the importance of keeping their house environment clean, the danger of drugs, the positive use of internet. To support us, We also invite couchsurfing friends from many countries who are interested to teach them to be guest teachers. The children will love it if they meet with new teachers in the class. So, if you happen to be in Jambi and you are interested to teach or share experiences with the class, feel free to contact us. They will love it.  One simple thing can be meaningful for other people who may need it. LT

22 December, 2012

Mimpi-Mimpi Ketenu 4

Keluarga majikan Ketenu kedatangan tamu istimewa. Seorang bule bernama Patrik dari Swedia. Patrik bukan Patrick adalah kenalan keluarga majikan Ketenu yang pernah datang ke rumah itu sebelumnya. Awalnya Patrik  hanyalah seorang traveler yang kebetulan mampir di kota Ketenu. Tapi kemudian oleh salah seorang anak majikan Ketenu yang berprofesi sebagai dosen bahasa Inggris, Patrik diundang untuk menginap di rumah mereka selama dia berada di kota ini. Itu kejadian dua tahun yang lalu sebelum Ketenu bekerja dengan keluarga itu. Kali ini Patrik kembali datang. Sepertinya dia benar-benar cinta dengan kota yang sebenarnya tidak ada objek wisata yang benar-benar layak untuk di kunjungi.

Patrik tiba di satu Sabtu pagi ketika semua anggota keluarga sedang berkumpul termasuk Ketenu. Patrik termasuk tipe orang yang tidak banyak bicara. Dia hanya menebar senyum lebar ketika bersalaman dengan setiap orang. Dengan tinggi tubuh hampir dua meter dan rambut pirang panjang melewati bahu, Patrik mirip dengan Maria Sharapova, petenis cantik asal Rusia jika di lihat dari belakang. Semua menyalami Patrik dengan hangat sambil mengucapkan selamat datang. Tapi ketika semua sudah bersalaman dengan Patrik, semua baru menyadari Ketenu telah lenyap dari ruangan itu. "Ketenu, kamu dimana?" teriak sang nyonya rumah memanggil Ketenu. "Iya Bu, saya di kamar saja Bu," Ketenu menjawab dengan suaranya yang terdengar sama-samar. Akhirnya anak perempuan majikan Ketenu masuk ke kamar Ketenu untuk mengajaknya keluar. "Lho, kok Yuk Tenu malah ngumpet di sini, ayok kenalan sama Patrik," ujarnya seraya menarik pergelangan tangan Ketenu yang besar. "Yuk Tenu takut Mbak, kok tinggi sekali dia, rambutnya kok pirang kayak rambut tante sebelah yang suka ke salon? Jangan-jangan dia itu perempuan jahat, Mbak." Ketenu berusaha menolak ajakan itu. Tapi dia tidak bisa menolak lagi ketika majikannya kembali memanggilnya keluar. 

Dengan tangan dingin gemetaran, Ketenu berjabatan tangan dengan Patrik. "Hello, nice to meet you," ujar Patrik dengan ramah. Sambil setengah menangis Ketenu menoleh ke arah anak majikannya, "Mbak, dia bilang apa, Mbak? Dia pasti bilang Yuk Tenu jelek ya Mbak?" Ketenu yang hanya sempat bersekolah sampai kelas dua SD karena keburu dipaksa menikah oleh orang tuanya tidak pernah sempat belajar bahasa Inggris. "Nggak Yuk Tenu, dia bilang Ayuk cantik." Tentu saja anak majikan Ketenu hanya bergurau agar Ketenu merasa nyaman dan mau berkenalan dengan Patrik. Spontan mata Ketenu berbinar dan senyumnya merekah seperti kembang matahari di pagi hari. Hilang rasa takutnya melihat Patrik yang berambut pirang dan bermata hijau itu. Bahkan tanpa disuruh Ketenu langsung bergegas menyiapkan kamar tamu yang berada persis di depan kamarnya untuk Patrik.

Ketenu yang biasanya bangun di atas pukul 10 pagi, kini sanggup bangun pukul 7 demi bisa menyiapkan sarapan pagi buat Patrik. Hampir setiap pagi Patrik yang telah bangun dan mandi berdiri di depan pintu menikmati hangatnya sinar matahari. Hal ini dapat dimaklumi mengingat betapa susahnya menemukan hangat matahari di musim dingin di negaranya, Swedia. Kenyataan ini tidak pernah bisa diterima oleh Ketenu yang tetap ngotot bilang kalau Patrik itu aneh karena selalu berjemur di bawah sinar matahari. "Saya aja tahan ngabisin gaji sebulan untuk beli obat pemutih muka dan badan. eh dia malah mau ngitamin kulitnya," omel Ketenu yang didengar oleh anak-anak majikannya dengan putus asa karena percuma memberi penjelasan kepadanya, toh dia tidak pernah bisa mengerti. Seperti biasa pagi itu Ketenu bersemangat ingin menyiapkan sarapan untuk Patrik. "Ibu, pagi ini Tenu nyiapin apa buat sarapan Bang Patrik?" tanya Ketenu. "Coba kamu tawarin dia mi instan aja, Tenu," jawab si nyonya yang buru-buru bergegas menuju garasi. Ketenu bengong sesaat, dia bingung bagaimana caranya menawarkan mi ke Patrik. Akhirnya dia tahu solusinya. Kebetulan Anak bungsu majikannya yang masih duduk di bangku kelas 6 SD belum pergi ke sekolah dan sedang memaki sepatu. "Dek, Yuk Tenu mau nanya, bahasa Inggrisnya apakah kamu mau mi apa ya dek?" Tanya Ketenu penuh semangat soalnya sebentar lagi dia bisa ngobrol dengan Patrik. Anak majikan Ketenu menjawab, "Oh gampang Yuk, bahasa Inggrisnya do you want mi? gitu Yuk," jawab si anak sambil berlari keluar rumah menuju sekolahnya yang tidak jauh dari rumahnya.

Tanpa menunggu lama, Ketenu langsung menemui Patrik yang masih berjemur berdiri menghadap matahari di pintu samping rumah. "Hai Patrik" Sapa Ketenu denga senyum semanis madu andalannya. "Hi Ketenu" balas Patrik dengan sopan.  Meluncurlah kalimat yang telah diajarkan oleh anak majikannya dari mulutnya. "Do you want mi, Patrik?" Tanya Ketenu dengan rasa bangga di dada karena bisa mengucapkan kalimat bahasa Inggris itu dengan lancar. Wajah Patrik sedikit berubah, "Excuse me?" Patrik merasa mungkin dia salah dengar. "Do you want mi?" Kali ini Ketenu mengucapkannya dengan suara keras agar Patrik mendengarnya dengan jelas. "No, I'm sorry, I don't want you, thank you very much," jawab Patrik sambil membuat tanda menolak dengan telapak tangan kanannya. Kelihatannya Patrik menjadi agak sedikit gugup, terkejut dan takut mendengar pertanyaan Ketenu itu. Ketenu bergegas kembali ke dapur sambil menggerutu panjang pendek. "Ya sudah, kalau nggak mau disiapain sarapan, kan situ yang lapar," kata ketenu sambil mencuci piring. Alhasil pagi itu Patrik kelaparan karena tidak makan apa-apa. Sepertinya Ketenu harus belajar bahasa Inggris.

 


20 December, 2012

a Deaf and the Sun

20.12.2012

I was born in a silence of a crowded world 

I can't hear my own cry

all steps are  dragged away

but that is fine 

I have my friend

who without words I share my stories with

who without laughter I joke with

who always smiles at me at the end

my friend, the sun

 

a Deaf and The Sun

20.12.2012

aku terlahir ke dunia ramai yang berkesunyian

aku tak mampu mendengar tangisku sendiri

semua langkah diseret menjauh 

tapi tak mengapa, 

aku punya teman setia

tanpa kata aku bercerita 

tanpa senda aku bergurau

dan dia selalu tersenyum padaku karena dia mengerti

dia matahariku


19 December, 2012

Nonton film aksi gratis

Pagi ini aku menyaksikan suatu keajaiban dunia yang luar biasa. Biasanya aku hanya menyaksikan peristiwa ini di film-film aksi dari barat sana. Tapi yang aku lihat adalah aksi nyata luar biasa tanpa peran pengganti.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bergegas menuju kantor. Hari memang sudah tidak pagi lagi jadi aku agak sedikit memacu kencang kendaraanku. Tibalah aku di persimpangan dimana aku harus berbelok ke arah kanan. Aku tidak perlu menunggu  lampu hijau untuk melaju ke kanan karena walaupun simpang empat, para pengendara yang berada di tiga ruas jalan lain tidak diperbolehkan untuk masuk dan menggunakan jalan yang aku tempuh alias hanya satu arah. 

Saat itu cukup banyak pengendara yang memiliki tujuan yang sama denganku yang akan berbelok ke kanan karena jalan ini menuju pusat perkantoran pemerintah. Semua pengendara baik motor ataupun mobil memacu kendaraannya cukup kencang karena belokan ke arah kanan masih cukup jauh. Tiba-tiba dari arah berlawanan muncullah seorang perempuan berambut pirang, mengendarai sepeda motor. Rambut pirangnya yang tidak tahu asli atau tidak itu, kelihatan berkibar seperti bendera diterpa angin kencang karena dia tidak memakai helm. Wanita itu membawa seorang anak kecil yang duduk di depannya. Aksi itu dibuat lebih dramatis lagi yaitu tangan kirinya diangkat tinggi memegang telepon selularnya. Sepertinya dia sedang membaca pesan singkat atau sedang membuka situs jejaring sosial. Tanpa merasa takut, cemas, atau bersalah, dia melaju kencang ke arahku yang dilarang. Spontan semua pengendara termasuk aku yang cukup mepet di sisi kanan jalan panik membanting stir ke kiri memberi dia ruang untuk bisa melaju dari arah berlawanan dari sisi kiri dia.  Untung semua pengendara waspada dan membantung stir tepa waktu. Jika tidak, akan terjadi pertempuran tidak seimbang antar wanita itu melawan kami yang terdiri dari beberapa motor dan mobil.

Aku tidak menghitung berapa banyak kosa kata tidak senonoh yang keluar dari mulut pengendara yang satu arah denganku. Si wanita membalasnya dengan senyum manis. Syukurlah kamu masih bisa tersenyum, ucapku dalam hati.


17 December, 2012

Tips untuk Backpacker ke Luar Negeri. MAKANAN

Bagiku, Makanan adalah salah salah satu hal penting lain yang harus menjadi perhatian. Beberapa faktor yang harus kita pertimbangkan tentang makanan yang pasti adalah pertama, makan di restoran di negara lain bisa menyedot isi kantong kita karena mahal. Kedua, jenis makanan yang kita temukan di negara lain belum tentu sesuai dengan selera kita. Ketiga, bagi yang muslim, untuk memperoleh makanan yang halal di negara lain terutama negara Islam minoritas bisa menjadi suatu sebuah tantangan. Beberapa tips yang bisa dipertimbangkan:
1. Membawa rice cooker
Jika pergi berkelompok, bagi kita pemakan nasi, rice cooker bisa menjadi dewa penolong yang sangat membantu. Rice cooker bisa digunakan untuk menanak nasi, merebus mi instan, bahkan merebus air untuk teh atau kopi bila diperlukan. Tidak akan merepotkan untuk membawa sebuah rice cooker mini ke dalam backpack kita. Aku berbagi pengalamanku dengan rice cooker di tulisanku yang lain, baca: http://lukmantanjung.blogspot.com/2012/12/rice-cooker-goes-international.html 
2. Membawa makanan atau bahan makanan yang bisa dibawa
Banyak jenis makanan yang bisa kita bawa jika kita tidak ingin mengambil resiko makan makanan mahal, tidak sesuai selera atau yang tidak tidak jelas halal atau tidak. Makanan dan bahan makanan seperti rendang, sambal kering, mi instan, dan sambal instan menjadi pilihan luar biasa tepat jika kita mau berhemat namun tetap bisa makan enak. Bahkan untuk pertahanan di awal-awal, beraspun bisa dibawa mendampingi rice cooker yang bisa juga kita bawa sebelum kita bisa menemukan tempat yang menjual makanan atau bahan makanan yang layak kita makan.
3.  Mengumpulkan informasi tentang restoran atau tempat makan yang menjual makanan yang bisa kita makanan.
Ketika kita berada di negeri orang, tentu saja kita tetap ingin merasakan makanan khas di tempat tersebut. Bekal yang kita bawapun tidak mungkin bisa mencukupi kebutuhan makan kita jika kita bepergian untuk waktu yang lama. Akan sangat membantu jika sebelum melakukan perjalanan, kita pesiar di dunia maya mencari tempat-tempat yang menjual makanan yang layak kita makan dari segi harga, kesehatan, cita rasa, dan keyakinan agama kita. Internet akan sangat membantu kita. Dengan bekal informasi yang cukup detail, kita tidak perlu panik karena takut kelaparan di negeri orang. 
 
 

Tips untuk Backpacker ke Luar Negeri. UANG

Tidak bisa dipungkiri bahwa uang adalah modal terpenting kita untuk bisa jalan-jalan ke luar negeri. Bersyukurlah jika kita tidak punya kendala keuangan. Tapi perlu diingat bahwa kita tidak selalu harus memiliki uang yang banyak untuk bisa ke luar negeri. Dengan latar belakang ekonomi dan pekerjaan yang berbeda-beda, kita masih bisa menyisihkan uang untuk jalan-jalan ke luar negeri. Berikut beberapa tips yang mungkin bisa dipertimbangkan.

1. Menabung pribadi

Menabung sendiri dengan menyisihkan gaji atau uang saku yang memang secara khusus kita peruntukkan untuk jalan-jalan bisa dilakukan. Sekalipun butuh waktu panjang untuk bisa mengumpulkan uang yang cukup, mengapa tidak? kita bisa melakukannya dengan kesadaran bahwa suatu saat kita bisa mewujudkan salah satu mimpi kita. Besaran uang yang kita tabung disesuaikan dengan kesanggupan kita. Yang penting adalah konsistensi kita untuk tetap rutin menabung dan tidak menggunakannya untuk kepentingan lain.

2. Menabung kelompok

Melakukan perjalanan secara berkelompok akan sangat mengasyikan. Kebersamaan bisa dimulai dengan membuat satu tabungan bersama yang uangnya akan digunakan untuk biaya jalan-jalan ke luar negeri. Sebuah sistim organisasi sederhana dapat dibentuk. Pilih seseorang yang diangkat sebagai bendahara yang mengatur masalah penyimpanan uang. Lagi-lagi konsistensi anggota kelompok menjadi sangat penting dalam hal ini. 

3. Melakukan usaha kecil-kecilan bersama

Untuk yang kreatif, menciptakan bisnis atau usaha bersama merupakan salah satu alternatif terbaik yang bisa dilakukan untuk mengumpulkan uang tanpa harus mengganggu keuangan pribadi masing-masing. Meskipun untung yang diperoleh tidak begitu besar, jika dilakukan secara serius, tetap bisa memberi untung yang bisa dimanfaatkan untuk biaya jalan-jalan.

Tips untuk Backpacker ke Luar Negeri. HOTEL

Hotel atau penginapan adalah hal penting lain yang harus kita pertimbangkan sebelum kita melakukan perjalanan  ke luar negeri. Tentu saja jika kita punya banyak uang atau siap menghabiskan uang di hotel mewah, kita tidak perlu pusing memikirkan di mana kita akan menginap. Tapi jika kita ingin berhemat tapi masih bisa mendapatkan penginapan yang layak, kita harus cerdas untuk menyikapinya. Ada beberapa tips yang dapat kita lakukan untuk berhemat.
1. Menjelajah internet untuk mencari dan memesan kamar hotel murah di negara yang akan kita kunjungi.  
Umumnya hotel-hotel itu memiliki situs untuk mempromosikan hotel mereka bahkan beberapa hotel menyediakan pemesanan hotel secara online yang prabayar ataupun pasca bayar. Kemudian kita bandingkan harga kamar hotel yang satu dengan yang lain. Biasanya mereka akan menjelaskan fasilitas apa saja yang mereka tawarkan untuk setiap jenis kamar. Kita masih bisa memperoleh kamar berpendingin dan kamar mandi di dalam dengan harga yang masih masuk akal dan terjangkau plus dekat dengan objek-objek yang akan kita kunjungi. Bisa saja kita baru mencari hotel ketika kita sampai di negara tujuan. Tapi ada beberapa resiko yang mungkin kita hadapi. Pertama, mungkin saja saat itu hotel-hotel sedang penuh sehingga kita harus berusaha ekstra untuk mencari hotel yang sesuai. Kedua, jika tidak terlalu banyak menemukan alternatif hotel, otomatis kita tidak punya banyak pilihan untuk mendapatkan kamar murah. Memang ada resiko yang harus kita ambil ketika memesan kamar hotel secara online, yaitu belum tentu kamar hotel yang kita pesan akan seindah atau sebagus yang ditampilkan di situs internet. Cara mengakalinya adalah, usahakan memesan kamar tersebut untuk satu atau dua hari saja. Jika ternyata setelah kita sampai ternyata kamar itu tidak sesuai dengan apa yng kita bayangkan, kita bisa pindah ke hotel yang lain. 
 
2. Menginap di bandara bila perlu
Bandar udara internasional menurutku adalah salah satu tempat yang cukup layak untuk kita jika kita harus bermalam di sana dan kita bisa menghemat uang untuk membayar kamar hotel. Tipsnya adalah, kita harus memastikan jadwal penerbangan yang akan kita lakukan. Seandainya kita tiba di suatu negara tujuan di malam hari atau harus transit di suatu negara pada malam hari dan akan melanjutkan penerbangan kita di pagi harinya, menginap di bandara adalah suatu hal yang dapat kita lakukan ketimbang mencari hotel. Ada banyak penumpang yang biasanya bermalam di bandara sebelum meneruskan perjalanan mereka keesokan harinya. Kita tinggal mencari sudut nyaman strategis untuk membentang alas tidur yang kita punya atau koran yang bisa kita beli di Bandara. Kita bisa menggunakan kamar mandi bandara untuk sekedar mencuci muka dan menyikat gigi. Selain bisa berhemat, kita juga tidak akan khawatir ketinggalan pesawat keesokan harinya karena kita masih berada di area bandara.
 
3. Hubungi teman atau saudara bila ada
Jika kita memiliki teman atau saudara yang dapat kita tumpangi, itu akan lebih baik. Tapi jangan tiba-tiba mengontak mereka yang sebelumnya tidak pernah kita hubungi dan langsung meminta tumpangan. Jalinlah dulu komunikasi yang baik dengan mereka sebelum kita berangkat. Bila perlu siapkan souvenir atau oleh-oleh yang gampang dibawa untuk mereka. Kita harus menginformasikan dengan jelas kapan kita akan datang jadi mereka bisa bersiap-siap. 
 
4. Bergabung dengan jaringan traveler dunia
Saat ini banyak sekali jaringan-jaringan traveler dunia yang dapat membuat kita berkenalan dengan orang-orang yang tertarik dengan dunia traveling. Jika kita bergabung menjadi anggota klub, kita bisa menghubungi anggota klub lain yang berdomosili di negara yang akan kita tuju dan mengontak mereka apakah bersedia memberi penginapan gratis kepada kita untuk beberapa hari. Biasanya jika mereka tidak sibuk, mereka akan menerima kita. Tentu saja kita harus bisa menjalin komunikasi yang baik dengan mereka sehingga mereka percaya kalau kita tidak punya maksud tidak baik. Yang aku tahu dan aku coba sendiri bisa dibuka di www.couchsurfing.org

15 December, 2012

Mimpi-Mimpi Ketenu 3

Kali ini Ketenu menjadi buah bibir. Hampir semua orang di Kelurahan Rajawali mengenal harumnya nama Ketenu yang menjadi pahlawan. Bahkan beberapa koran lokal mencari Ketenu ke rumah tempat Ketenu bekerja sebagai pembantu rumahtangga. Memang mereka tidak berhasil bertemu dan mewawancarai Ketenu karena dia kabur ketakutan dan bersembunyi di kolong tempat tidur yang hanya bisa menyembunyikan sebelah kakinya saja. Namun mereka tetap menerbitkan berita tentang Ketenu berdasarkan informasi dari warga yang tinggal di sekitar rumah tempat Ketenu bekerja. Tapi karena mereka tidak berhasil memotret Ketenu, akhirnya mereka memasang foto Xena dari serial Xena the Warrior Princess, dengan judul besar, "Ketenu, Pahlawan Kelurahan Rajawali". Apa yang telah dilakukan oleh Ketenu sehingga dia menjadi buah bibir?

Cerita dimulai pada satu hari minggu. Seperti biasa Ketenu melakukan kewajibannya sehari-hari di rumah majikannya. Hari menunjukkan pukul 10 pagi, Ketenu baru saja bangun dari tidur panjangnya. Memang walaupun Ketenu bekerja sebagai pembantu rumahtangga, dia jarang bangun pagi seperti kebanyakan pembantu rumahtangga lain. Majikannya sudah sangat maklum dengan hal itu. Percuma saja membangunkan Ketenu di saat dia tidur. Pernah suatu ketika Ketenu yang menurut anak majikannya selalu tidur gelisah berguling kesana-sini ditemukan tidur bergelimang sepatu di samping rak sepatu yang sudah dalam keadaan terbalik yang terletak di depan pintu kamarnya. 

Seperti biasa setelah bangun Ketenu langsung mandi dan berganti kostum lengkap dengan celemeknya yang bermotif angry bird bersiap melakukan rutinitasnya membersihkan rumah majikannya yang seukuran lapangan sepak bola dikali dua. Dikali dua karena rumah tersebut terdiri dari dua tingkat. Kegiatan Ketenu dimulai dengan membuka semua jendela dan menyingkap semua tirai jendela agar udara pagi yang masih belum tercemar masuk ke dalam rumah. Kebetulan hari itu seluruh anggota keluarga majikan Ketenu pergi pagi-pagi sekali untuk menghadiri sebuah acara keluarga. Malamnya Ketenu sudah diberi pesan oleh istri majikannya kalau mereka akan pergi pagi-pagi sekali dan mereka akan mengunci pintu rumah dari luar. Setelah menyetel lagu dangdut dari VCD bajakan yang suaranya mengalun keras, Ketenu mulai membuka jendela dan menyapu seluruh ruangan. Sambil sesekali berdendang dan bergoyang dia terus bekerja tak kenal lelah. Badan gemuknya bergerak lincah kesana kemari memainkan sapu mencapai sudut-sudut ruangan yang berliku.

Ketika Ketenu sedang membersihkan kamar majikannya di lantai atas, masuklah seorang pria yang mengendap-endap dari pintu garasi yang ternyata tidak terkunci oleh majikan Ketenu dan keluarganya. Pintu itu memang dalam keadaan rapat tapi tidak terkunci. Sepertinya laki-laki yang masuk ini sudah mengintai rumah itu cukup lama sehingga dia mengetahui kalau rumah itu kosong dan hanya ada Ketenu di dalamnya. Pria itu membuka pintu garasi secara perlahan dan tentu saja tidak didengar oleh Ketenu yang sedang berada di lantai atas ditambah alunan lagu dangdut yang terus mengalun. Pria itu telah berhasil masuk ke dalam garasi dan terus mengendap menuju pintu penghubung garasi dan rumah yang memang tidak dikunci. 

Pria itu telah berada di belakang mobil majikan Ketenu yang terparkir persis di dekat pintu penghubung. Ketenu yang sedang melongokkan wajahnya ke luar kamar majikannya yang berada di atas garasi  untuk membuka jendela tertegun dan bengong sesaat. "Siapa orang ini?" gumamnya dalam hati. Meskipun lugu dan lucu, Ketenu mampu berpikir cepat dan sadar bahwa pria yang mengendap-endap itu pasti mempunyai niat tidak baik, "Kalau tujuannya bertamu, mengapa harus mengendap-endap?" Ketenu melanjutkan gumamannya. Perlahan-lahan Ketenu menuju tangga turun ke lantai bawah sambil memegang erat-erat sapu di genggamannya yang tiba-tiba mengeras sekeras batu. Ketenu bersembunyi persis di balik tirai jendela yang berada di samping pintu penghubung garasi dan rumah. Ketenu memegang erat sapu senjata andalannya sambil mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup lebih kencang seperti biasanya. Dia sempat khawatir pria yang berada sekitar dua meter darinya di balik pintu dapat mendengar degupan jantungnya. Pria itupun menjulurkan kepalanya ke dalam rumah dan ketika pria itu memalingkan mukanya ke arah Ketenu, secepat kilat Ketenu mengayunkan batang sapu yang dipegangnya sekeras-kerasnya ke arah muka si pria. Pria itu menjerit kesakitan sambil menutupi mukanya dan belum cukup sampai di situ, Ketenu yang telah melepaskan sapunya, mengayunkan tinju besarnya ke arah muka si pria yang masih menutupi mukanya menahan sakit dihantam sapu Ketenu. Kali ini pria itu tidak sanggup menahan kerasnya bogem Ketenu dan diapun jatuh ke lantai. Ketenu sadar bahaya masih mengintainya jika pria itu masih sanggup berdiri dan balik menyerangnya. Tanpa pikir panjang, Ketenu menghempaskan tubuhnya yang memang sangat berat ke atas tubuh pria itu. Ketenu beberapa kali sempat melihat anak majikannya menonton acara Smack Down di televisi jadi sedikit banyak dia tahu bagaimana cara yang tepat untuk melumpuhkan pria itu. Pria itu hanya bisa mengeluarkan suara lenguhan pendek dan Ketenu langsung menutup aksinya dengan mengikat kaki dan tangan pria itu dengan celemeknya di tambah taplak meja yang ada di ruangan itu.

Setelah yakin pria itu tidak bisa lagi bergerak karena terikat dan hampir pingsan, Ketenupun berlari keluar rumah sambil berteriak minta tolong kepada tetangga terdekat.  Selang beberapa menit kemudian, rumah majikan Ketenu telah dipenuhi oleh warga setempat dan beberapa orang polisi yang telah dihubungi oleh Ketua RT. Ketenu sempat kesal karena polisi-polisi itu bertanya kepadanya berulang-ulang bagaimana caranya dia melumpuhkan pria itu. Mungkin polisi-polisi itu tidak percaya Ketenu bisa melumpuhkan si pria dengan aksi-aksi heroiknya. "Kalau bapak mau, saya bisa praktekkan apa yang saya lakukan tadi kepada bapak," kata Ketenu dengan kesal. "Oh tidak perlu Mbak, cukup cukup, kami sudah paham sekarang," jawab si polisi dengan nada sedikit memohon. Si polisi tidak mau mengambil resiko tentu saja. Sejak saat itulah nama Ketenu ngetop di kelurahan bahkan di kota tempat dia tinggal. Dari mulai anak-anak, ibu-ibu, dan bapak-bapak tidak henti-hentinya membincangkan aksi heroik Ketenu. Hebatnya lagi, Ketenu sempat diundang oleh pihak kepolisian untuk mendemonstrasikan aksinya melumpuhkan pria malang yang masuk ke rumah majikannya itu di hadapan calon-calon polisi yang sedang menempuh pendidikan yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Ketenu.(LT)

 


14 December, 2012

Tips Untuk Backpacker ke Luar Negeri. TIKET

Istilah backpacker digunakan untuk mereka yang melakukan sebuah perjalanan wisata hanya dengan membawa tas punggung untuk membawa perlengkapan seadanya dan backpacker juga biasanya akan menekan biaya perjalanan alias berhemat. Dalam tulisan ini, aku hanya berbagi pengalaman pribadiku yang sangat sedikit ketika backpacking ke beberapa negara khususnya beberapa tips yang aku anggap sangat bermanfaat jika dilakukan. Tulisanku ini aku pisah-pisah dalam subjudul untuk memudahkan membaca tips yang dibutuhkan. 

Banyak orang langsung pesimis dan geger mendengar ide untuk jalan-jalan ke luar negeri. Yang ada di bayangan kita jalan-jalan ke luar negeri hanya angan-angan belaka karena terlalu mahal dan terlalu rumit sulit dilakukan. Hal ini mengubur impian kita dalam-dalam untuk bisa menginjakkan kaki ke negeri orang. Tapi menurutku semua itu tidak benar. Berwisata ke luar negeri tidaklah selalu semahal dan serumit yang dibayangkan oleh banyak orang. Aku sendiri telah melakukannya beberapa kali dan ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan sebelumnya. Untuk yang pertama ini aku membahas tentang tiket.

1. Cari tiket promo

Tiket tentu saja adalah hal utama yang harus kita butuhkan jika ingin backpacking ke luar negeri. Khususnya negara yang harus kita capai dengan pesawat. Memang kita bisa saja membeli tiket pesawat kapan kita mau, tapi artinya kita harus mempunyai uang yang cukup untuk membeli tiket dengan harga berapapun. Di musim liburan, harga tiket pesawat bisa melonjak tinggi karena banyaknya orang yang ingin melakukan perjalanan wisata ke luar negeri. Cara jitu untuk mendapatkan tiket dengan harga murah bahkan sangat murah adalah dengan memantau situs-situs maskapai penerbangan yang memberi tiket promo pada waktu-waktu tertentu. Harga promo yang diberikan bisa sangat murah dan sangat terjangkau.

2. Sesuaikan rencanakan perjalanan dengan jadwal tiket promo

Kebanyakan tiket promo akan dipromosikan jauh sebelum jadwal keberangkatan dan kita harus membelinya dan jauh-jauh hari kita harus segera membayarnya. Pembayaran dapat dilakukan dengan membayar langsung ke agen penjualan tiket pesawat atau dengan menggunakan kartu kredit. Resiko yang harus kita ambil adalah jika kita membayar tiket promo tersebut kita tidak bisa membatalkan pembelian apa lagi yang menggunakan kartu kredit. Artinya jika batal berangkat, uang pembelian tiket tersebut akan hangus. Oleh karena itu, matangkan rencana perjalanan kita sebelum kita membeli tiket promo. Beberapa maskapai penerbangan yang aku tahu sering menawarkan tiket promo adalah Air Asia, Tiger Airways. Kita tinggal mencari situsnya melalui google. Jadi, trik yang aku gunakan adalah aku menyesuaikan rencana perjalananku dengan tiket harga promo yang aku dapat agar aku bisa berhemat. LT

 

 

 

 

 

13 December, 2012

Lauk Perang

Hari ini Rabu, tanggal 12 bulan 12 tahun 2012. Tanpa bermaksud ikut-ikutan orang lain yang sengaja melakukan hal penting, aku merasa harus ada yang aku tulis meskipun ringan. Aku tidak akan bercerita tentang ramalan suku Maya atau paranormal tentang kiamat atau apalah. Aku hanya ingin berbagi cerita yang aku anggap seru yang terjadi di kantorku siang tadi.
Pelepah pisang sebagai alas makanan

Ada suatu kebiasaan yang aku anggap cukup unik di kantorku yang telah dilakukan berkali-kali semenjak kantorku ini berdiri. Unik karena aku merasa ritual ini tidak terlalu lazim dilaksanakan di kantor lain. Ritual itu adalah makan bersama di kantor yang dilakukan seluruh pegawai kantor dari mulai kepala kantor sampai ke satpam dan tenaga honor. Kalau hanya kegiatan makan bersama seperti pada umumnya, mungkin tidak ada yang unik yang perlu diceritakan. Tapi kegiatan makan bersama di kantorku ini benar-benar dilakukan bersama dengan cara membentang pelepah daun pisang sepanjang kira-kira tujuh atau delapan meter kemudian seluruh makanan dihampar rapi di atasnya. Kami juga tidak menggunakan kursi untuk duduk. Kami semua berdiri berhadap-hadapan dan makan menggunakan tangan, bukan berarti biasanya kami makan dengan kaki, maksudku, kami tidak menggunakan sendok dan garpu. 


Kebiasaan ini tidak memiliki agenda rutin, jadi kapanpun kami mau, kami tinggal patungan. Besarnya jumlah patungan tidak ditentukan alias sukarela, dan jika tidak patunganpun tetap boleh ikut patungan menghabiskan makanan yang ada. Di hari sebelumnya, ibu-ibu di kantor telah sibuk kasak-kusuk menentukan siapa harus memasak apa atau siapa harus membawa apa.  Makanan yang disediakan sederhana tapi bermacam-macam. Mulai dari nasi putih, ikan asin goreng, tahu dan tempe goreng, tumis bunga pucuk pepaya, tumis pare, beberapa jenis sambal, kerupuk, dan jengkol disambal dengan cabai hijau, Yang diketik belakangan salah satu kegemaran orang kantor, aku salah satunya. 



 Setelah semua makanan dihidang di atas pelepah pisang, kami berjejer rapi saling berhadapan di depan meja. Salah seorang teman memimpin doa. Mungkin doa kami tidak khusuk lagi karena kami berdoa sambil menunduk menghadap makanan yang sudah menunggu untuk kami serbu bahkan beberapa teman berdoa sambil mengunyah ikan asin atau tahu. Doa selesai dipanjatkan, pembantaianpun dimulai. Banyak hal yang menggelikan terjadi. Aku

biasanya mencari posisi strategis di samping teman yang bertubuh kurus dengan harapan porsi makannya tidak banyak. Tapi aku salah besar karena ternyata teman yang kurus ini makannya lebih banyak dari pada aku. Ada juga seorang ibu yang kegirangan ketemu sambal enak tidak pedas akhirnya mengandaskan sambal itu sendirian. Ada teman yang malang karena berdiri di samping pemegang gelar pemakan sejati, sehingga dia harus bergerilya pindah ke tempat lain karena masih lapar. Ada yang mencintai jengkol, jadi sebelum makan dimulai, dia sudah berdiri persis di depan gundukan sambal jengkol yang paling tinggi. Dalam waktu kurang lebih setengah jam, biasanya hampir semua makanan ludes disikat. 


Manis-manis ya, tapi anda tidak melihat ketika mereka makan.


Mungkin tidak ada yang terlalu istimewa dengan ritual makan sederhana ala perang ini. Tapi yang jelas bagiku, kegiatan ini memberiku kesempatan untuk bisa merasakan keakraban dan kebersamaan dengan teman-teman di kantor. Tidak ada yang merasa malu atau gengsi berebut makanan yang sama di tempat yang sama. Bagiku itu adalah sebuah pembelajaran yang sangat mahal yang diraih dari sesuatu yang sangat sederhana.  

Pejuang terakhir


 

10 December, 2012

Timur atau Barat? Episode 3

Musim dingin di Nijmegen

Awal musim dingin di Eropa adalah masa-masa penuh keluh kesah bagiku dan mungkin juga bagi kebanyakan orang-orang yang berasal dari negaraku. Tubuhku yang dokter bilang tidak terlalu kuat dan rentan terhadap perubahan cuaca, butuh waktu cukup lama untuk bisa beradaptasi dengan suhu dingin luar biasa yang bisa mencapai di bawah nol derajat Celcius. Selama hampir dua minggu, hidung dan mulutku mengeluarkan darah yang aku yakin penyebabnya adalah suhu dingin tersebut. Terkadang jika aku lupa membawa sarung tanganku ketika bersepeda menuju kampus, telapak tanganku akan mati rasa beberapa saat setibanya aku di kelas. Pernah sekali aku bereksperimen bodoh menaruh segelas air di luar jendela kamarku dan dalam waktu singkat air itupun membeku. Di saat-saat seperti itu, aku merasa beruntung dan beryukur aku berasal dari negaraku tercinta. Meskipun ada segudang atau mungkin dua gudang permasalahan yang kelihatannya tidak akan pernah bisa selesai, aku tetap bisa menikmati hangatnya sinar matahari yang terkadang sampai menggosongkan kulitku. Tapi kalau boleh memilih, aku lebih sanggup menerima sengatan sinar matahari di negaraku dari pada harus menghadapi cuaca dingin ini. Jangan-jangan kalau aku diam di tempat terbuka beberapa jam aku benar-benar bisa membeku seperti es batu.  Namun seiring berjalannya waktu, tubuhku pun semakin kuat dan kebal dengan udara dingin menusuk tulang. Bahkan aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam di luar tentu saja dengan pakaian dinginku yang berlapis-lapis seperti kue lapis dan tebal seperti tembok baja.

      Salah satu kebiasaanku yang menurutku agak tidak lazim adalah menyusuri jalan-jalan di kotaku yang tidak aku kenal bermodalkan petunjuk arah dari Google Maps yang aku print. Tidak ada tujuan khusus dari kebiasaan itu. Aku hanya merasa senang dan puas menaklukkan ketakutanku yang terkadang berlebihan ketika tersesat di sebuah daerah yang tidak aku kenal. Keberhasilanku mengambil foto dan kembali ke apartemenku tanpa tersesat adalah suatu kebanggaan sederhana. Semua perburuanku itu aku lakukan dengan bersepeda tentu saja. Sepeda adalah transportasi utama di Belanda yang paling nyaman dan aman. Nyaman dan aman karena jalan-jalan di Belanda umumnya memiliki tiga jalur. Jalur utama untuk pengendara mobil, jalur kedua untuk pengendara sepeda, dan jalur ketiga untuk pejalan kaki. Aku sempat bertekad setibanya aku di Indonesia nanti, aku akan membeli sebuah sepeda dan aku akan bersepeda kemana-mana. Tapi tiba-tiba bayangan pengendara motor dan mobil di tempatku yang selalu seperti sedang ikut balap Formula 1 ditambah pedagang kali lima yang menggelar dagangannya sampai setengah badan jalan membuatku menempatkan niatku itu ke bagian paling bawah memoriku. 

Apartemenku (Willemsweg) di musim panas

    Suatu sore di musim dingin, sekitar pukul lima sore namun matahari sudah masuk lagi ke peraduannya, aku mengeluarkan sepedaku dari lantah bawah tanah apartemenku. Kali ini aku akan melaksanakan ekspedisi kecilku menemukan sebuah jalan yang bernama Medanstraat. Aku tidak menemukan penjelasan mengapa kata 'medan' dijadikan sebagai nama jalan di sini. Tapi yang pasti, aku ingin menemukan jalan itu dan mengbadikannya dengan kamera sederhanaku untuk kutunjukkan kepada teman-temanku sepulangnya aku nanti. Aku tahu bersepeda di musim dingin menyusuri jalan-jalan tertutup salju tipis yang mulai mencair ditambah lagi lumut basah yang menghiasi  bukan suatu kegiatan yang mudah. Permukaan jalan akan menjadi luar biasa licin sehingga kemungkinan ban sepedaku terpeleset dan tergelincir akan sangat mungkin terjadi. Tapi aku tetap melakukan misiku dengan janji aku akan sangat berhati-hati. 

Jalan di Belanda yang memiliki jalur tersendiri untuk pengendara sepeda.

 

     Akhirnya, sampailah aku di Medanstraat yang ternyata berdekatan dengan Atcehstraat, Borneostraat, dan Sumaterastraat. Aku belum sempat mencari penjelasan mengapa nama-nama berbau Indonesia itu digunakan sebagai nama jalan, tapi secara umum kita pasti tahu kita punya hubungan sejarah yang sangat panjang dengan Belanda. Akupun memotret papan nama jalan itu beberapa kali. Aku sempat berpikir apakah mungkin di sini banyak orang Batak sehingga mereka menamai jalan ini Medanstraat? Bah, tidak mungkin pula aku gedor pintu rumah-rumah warga di sini satu persatu-satu untuk membuktikan dugaan bodohku itu. Aku segera memasukkan kameraku ke dalam saku jaketku, malam semakin dingin. Aku mulai mengayuh sepedaku untuk kembali ke apartemenku. Ketika aku harus melewati sebuah bundaran untuk berbelok ke arah kiri, aku berbelok terlalu tajam dan akhirnya, seperti suara nangka busuk, aku terjatuh mendarat ke jalan yang licin dan punggung bagian bawahku yang menghantam jalan terlebih dahulu menampung seluruh berat tubuhku dan sepedaku. Seumur hidupku, baru saat itulah aku mengalami sakit yang sangat luar biasa pada bagian bawah punggung. Aku yakin tulangku retak. Karena sakit luar biasa, aku sampai berteriak keras, aduh! berkali-kali, tidak dalam bahasa Inggris atau bahasa Belanda karena aku tidak sempat lagi memikirkan apa padanan kata 'aduh' yang tepat. 

Borneostraat
Atcehstraat dan Medanstraat

     Untuk beberapa lama, aku tidak mampu berdiri dan hanya terbaring di jalan sambil mengerang kesakitan sambil berusaha menyingkirkan sepeda yang menghimpitku. Aku bingung mau berteriak minta tolong sama siapa, tidak ada orang yang melintas di jalan itu. Bodohnya lagi, aku berpikir, kalau aku meneriakkan kata 'tolong', apa ada yang akan mengerti dan menolong? Akhirnya aku putuskan meneriakkan kata 'help' beberapa kali, untuk sesaat aku merasa seperti sedang syuting film-film barat yang aku tonton tapi aku tidak peduli karena aku benar-benar butuh pertolongan. Aku tetap mencoba sekuat tenaga untuk duduk, saat itulah dari sebuah rumah yang berada paling dekat dengan posisiku terjatuh, keluar seorang wanita tua yang setelah aku lihat dengan jelas berumur tidak kurang dari lima puluh tahun berjalan tergopoh-gopoh menghampiriku, rupanya teriakan 'help' tadi mebuahkan hasil. Wanita itu menyingkirkan sepeda dariku sambil bertanya dalam bahasa Belanda yang mudah-mudahan kalau tidak salah aku artikan "Ada apa denganmu? Apa kamu baik-baik saja?" Dalam bahasa Inggris aku menjelaskan kepadanya sepedaku tergelincir di jalan yang sangat licin. Lalu dia berteriak memanggil seseorang dan keluarlah seorang lelaki tua yang aku yakin adalah suaminya. Sekilas mereka berbicara dalam bahasa Belanda kemudian sang suami bertanya kepadaku apa aku bisa berjalan. Aku menjawabnya dengan berdiri, pasangan suami istri itu dengan sigap meraih lengan kanan dan kiriku dan membuat aku merasa agak risih tapi sangat terharu. Sakit sekali rasanya ketika kuluruskan punggungku tapi aku tahu aku harus bisa berdiri, bisa panjang ceritanya kalau aku harus dirawat ke rumah sakit. 

     Aku pikir aku hanya akan dibiarkan berdiri oleh pasangan sumai istri itu kemudian aku akan berusaha meraih sepedaku untuk segera bergegas pulang walau aku tidak yakin aku masih bisa naik sepeda. Tapi suami istri itu justru memapah aku menuju kerumahnya sambil berkata kepadaku bahwa aku tidak boleh pulang dengan bersepeda dan mereka akan mengantarku ke apartemenku. Aku terkejut mendengar hal itu karena rasanya tidak mungkin mereka mau merepotkan diri untuk mengantarku pulang. Akupun menolak tawaran itu secara halus dengan mengatakan aku sudah merasa lebih baik setelah mencoba berjalan. Tapi mereka tidak peduli dengan penolakanku, aku dipapah masuk ke ruang tamu mereka dan diminta duduk di kursi mereka yang hangat dan nyaman. Setelah itu sang suami bergegas mengambil sepedaku yang masih di jalan sementara sang istri masuk ke ruangan di samping ruang tamu. Tidak lama kemudian sang suami duduk bersamaku dan sang istri muncul sambil membawa segelas teh hangat. Satu jam kami habiskan untuk mengobrol panjang lebar. Kebanyakan mereka bertanya tentang keluargaku, negaraku, dan kegiatanku di Belanda. Akhirnya aku mohon pamit kepada mereka untuk segera pulang. Mereka langsung bergegas mengambil jaket mereka dan membantuku keluar menuju sebuah mobil dengan bak terbuka yang diparkir di pinggir jalan. Aku dipersilahkan masuk ke bagian depan mobil sementara sang suami mengangkat sepedaku ke atas bak mobil. Kemudian mereka masuk ke dalam mobil dari sisi kiri dan kananku. 

     Aku hanya bisa mengucapkan terimakasih berkali-kali yang sepertinya tidak terlalu mereka pedulikan ketika kami sampai di depan apartemenku. Untuk beberapa saat aku berdiri memandang mobil manusia-manusia baik itu benar-benar lenyap dari pandangan. Sekali lagi hati dan nuraniku dilanda kekeluan luar biasa di negara ini. Sedikitpun aku tidak pernah berpikir mereka akan menolong orang asing seperti aku yang berasal dari tanah antah berantah sampai sedemikian rupa tanpa rasa takut, sungkan, dan pamrih. Dalam hati aku memaksakan keyakinan bahwa aku pasti masih bisa menemukan orang-orang seperti itu di tanah tumpah darahku. (LT)

09 December, 2012

Curhat si Lampu Merah Gokil 2

Kembali lagi bersama saya si lampu merah ganteng yang nongkrong di Simpang 4 Pasar Kasang. Masih ingatkan? Ada banyak kejadian-kejadian aneh yang aku alami sampai-sampai aku lupa harus cerita yang mana lebih dahulu. Beberapa kejadian bahkan membuat aku ingin berteriak kepada orang-orang yang lewat untuk memindahkan aku ke lokasi lain yang menurutku akan lebih nyaman, di dekat taman misalnya atau di depan kafe misalnya. 

     Beberapa hari menjelang lebaran Idul Adha, pasar Kasang yang terletak persis di sebelah persimpangan tempat ku berdiri yang biasanya tidak terlalu ramai mendadak menjadi lebih hidup karena banyak pedagang dadakan yang biasanya tak berjualan ikut berpartisipasi mengais rejeki. Kebanyakan dari mereka menjual kebutuhan untuk merayakan hari raya seperti, sarang ketupat, bumbu-bumbu, dan tentu saja daging. yang kusebut terakhir inilah yang menjadi tantanganku dan teman-temanku yang lain. Satu minggu sebelum lebaran tiba, para pedagang daging musiman mulai berdatangan ke pasar Kasang secara berkelompok. Daging yang mereka bawa ke pasar masih dalam keadaan hidup alias belum disembelih karena akan terlalu dini jika mereka harus menyembelih hewan-hewan itu beberapa hari sebelum lebaran. Situasi inilah yang meninggalkan pengalaman yang tak terlupakan olehku.

     Para pedagang sapi dan kambing yang datang ke pasar Kasang harus mencari lokasi strategis untuk membuat kandang darurat bagi hewan ternak yang akan mereka jual. Para pedagang ini menjadi begitu kreatif membangun kandang-kandang itu. Mereka menyulap kayu dan atap rumbia sederhana menjadi istana nyaman buat kambing dan sapi mereka. Untuk kreatifitas itu aku harus angkat topi, kebetulan aku memang punya topi kecil penutup ketiga lampuku. Tapi satu hal yang membangkitkan amarahku adalah lokasi yang mereka pilih untuk mendirikan kandang-kandang tersebut. Mereka dengan seenaknya mendirikan kandang- kandang itu persis di dekat persimpangan yang jelas-jelas adalah daerah kekuasaanku dan teman-temanku. Aku masih beruntung karena berdiri di tengah dua ruas jalan sehingga tidak mungkin para pedang itu mendirikan kandang kambing di tengah jalan. Tapi dua temanku benar-benar kurang beruntung. Mereka berdiri persis di sebelah tanah kosong berumput yang merupaka lokasi paling strategis bagi para kambing dan sapi bersantai ria. 

     Hal pertama yang membuat teman-temanku mengumpat setiap saat yang hanya bisa didengar olehku dan teman-temanku yang lain adalah bau kotoran kecil dan besar yang diproduksi oleh kambing dan sapi itu membuat kami semua tidak bisa lagi menikmati udara segar. Para pemilik ternak tidak sedikitpun berinisiatif untuk membersihkan kandang-kandang itu mungkin dengan alasan  mereka tidak akan berlama-lama di situ. Tapi sungguh kasihan teman-temanku yang paling dekat dengan kandang-kandang itu. Sangking marahnya mereka, terkadang mereka menghidupkan lampu hijau, merah, dan kuning mereka sesuka hati mereka. Ketika aku menyalakan lampu hijauku yang otomatis memberikan kesempatan para pengendara melaju, temanku di sisi lain juga menyalakan lampu hijaunya sehingga kendaraan di sisi mereka juga melaju yang membuat kecelakaan hampir selalu terjadi dalam beberapa hari ini. 

     Suatu malam, ketika kami sudah mulai terlelap dalam keheningan malam, tiba-tiba seekor sapi terlepas dari kandangnya dan berjalan bingung ke arahku. teman-temanku berteriak kepadaku untuk memainkan ketiga lampuku agar sapi itu menjauh dariku. Akupun mengikuti saran teman-temanku. Tapi alih-alih membuat sapi itu menjauh, justru dia semakin tertarik mendekatiku. Mungkin dikiranya aku adalah mahluk cantik lawan jenisnya yang berusaha menarik perhatiannya dengan bermain mata. Sapi itupun semakin mendekatiku dan berada persis di sampingku. Perasaanku semakin tidak karuan antara takut dan risih. Sebelum aku bisa berpikir lebih lama, si sapi itu menggesek-gesekkan tubuhnya ke tubuhku, aku langsung berteriak sekeras-kerasnya agar dia menjauh dan tidak hanya sampai disitu, tiba-tiba sapi itu mengencingiku dan membuang hajat di bagian bawah tubuhku yang seketika menjadi hangat, basah, dan bau. Teman-temanku tergelak setengah mati sementara aku hanya bisa terdiam sembari memanjatkan do'a terdalam agar hujan segera turun.

08 December, 2012

Rice Cooker Goes International

Rice cooker yang aku bawa ke Belanda

Sudah lama aku ingin menulis tentang rice cooker. Dalam beberapa kali pengalamanku mendamparkan diri di negeri orang, rice cooker menjadi salah satu barang penting yang sangat membantuku. Mungkin ketika kita berada di zona aman kita dimana makanan adalah sesuatu yang mudah didapat karena dijual dimana-mana, rice cooker bukanlah suatu barang yang luar biasa. Tapi ketika makanan yang biasa kita makan adalah sesuatu yang cukup langka atau mahal, maka rice cooker bisa menjadi sangat penting.

     Pengalaman pertama aku dengan rice cooker adalah ketika aku menempuh pendidikanku S2 di Belanda. Sebagai seseorang yang hanya mendengar dan membaca di internet, aku cukup dibingungkan dengan segitu banyak informasi tentang pentingnya membawa rice cooker dari Indonesia. Alasan yang aku baca adalah karena rice cooker akan selalu bisa memberikan kita nasi yang merupakan makanan pokok sebagian besar orang Indonesia meskipun mengandung lebih banyak karbohidrat dibandingkan dengan makanan pokok lain. Namun ada juga yang mengatakan bahwa aku tidak usah repot-repot membawa rice cooker ke Belanda karena aku bisa membelinya di sana. Aku meminta pendapat dari sana sini terutama dari orang tuaku. Ketika aku bertanya kepada orang tuaku, aku tahu aku salah orang. Mereka pasti membayangkan anaknya akan mati kelaparan di negeri orang karena tidak ada nasi yang bisa dimakan.  Akhirnya aku memutuskan untuk memasukkan rice cooker ke dalam koperku yang aku lihat seperti mau meledak karena ada begitu banyak barang yang aku masukkan.

     Akhirnya akupun menjejakkan kakiku di negeri kincir angin.  Seperti biasa, memulai sesuatu yang baru bukanlah sebuah hal yang mudah apa lagi memulai untuk hidup dan tinggal di sebuah negara yang benar-benar jauh dan berbeda dengan negaraku. Tapi aku selalu yakin bahwa semua akan bisa dijalani dengan baik. Aku ditempatkan di sebuah apartemen di lantai 2 di sebuah kota bernama Nijmegen. Ketika pertama kali kami masuk ke flat itu, kami diberikan beberapa peralatan dapur penting seperti sendok, garpu, piring, gelas, dan panci kecil. Geli aku ketika membayangkan bagaimana jika aku adalah salah satu dari  ibu-ibu rumah tangga di daerahku yang kebanyakan terbiasa memasak untuk keluarga yang porsinya bisa cukup untuk makan warga sekampung. Mereka pasti berteriak sambil mengatakan bahwa tidak akan bisa hidup lebih dari 1 minggu ke depan karena mereka tidak menemukan kuali besar untuk menumis atau menggoreng atau panci besar untuk menggulai atau batu penggilingan untuk menghasilkan sambal lezat yang katanya berbeda kelezatannya jika dihaluskan dengan blender. Tapi bagiku semua peralatan yang minim itu tidak terlalu berpengaruh karena aku tidak pandai memasak di Indonesia dan jujur saja aku cemas membayangkan apa yang aku makan nanti, besok, dan seterusnya. Ternyata kami memang tidak diberikan rice cooker. Sebenarnya ini bisa dipahami karena orang Belanda atau orang Eropa pada umumnya tidak menjadikan nasi sebagai makanan pokok mereka. Tapi aku pikir seharusnya panitia yang menyiapkan apartemen untuk kami bisa lebih peka karena tahu kami berasal dari negara pecinta karbohidrat sejati. Tapi akupun menyadari, sudah bagus aku dibiayai segini besar untuk bisa kuliah di sini, rasanya tidak pantas untuk mengeluh karena tidak diberikan rice cooker. Di samping itu, aku juga jadi terpikir untuk mengurangi makan nasi dan membujuk lidah kedaerahanku untuk makan roti atau kentang rebus yang katanya lebih sehat. Aku tidak yakin dengan niatku yang terakhir ini. 

     Singkat cerita, aku harus berterimakasih dengan semua yang mendukungku untuk membawa rice cooker ke Belanda. Memang hampir setiap hari aku makan nasi seperti biasa ditemani dengan lauk pauk sederhana yang rasanya jangan ditanya karena akan sulit aku jelaskan di sini sangking sulitnya aku menemukan padanan kata yang tepat untuk menggambarkannya. Intinya, aku akhirnya bisa memasak beberapa jenis masakan. Beras impor dari Suriname, Thailand, atau India sangat mudah didapat di supermarket kecil atau besar di Belanda. Beberapa kali aku mencoba untuk makan roti saja dan tidak makan nasi, tapi aku merasa ada yang aneh di perutku. Akhirnya aku putuskan tetap makan roti tapi hanya sebagai kudapan pagi atau malam saja dan nasi tetap menjadi pilihanku dengan rice cooker sebagai penolongku. 

Kamar Hotel di Paris, rice cookernya tidak kelihatan, tapi sebenarnya para ibu-ibunya sedang memasak mi instan dengan rice cooker itu.

     Pada kesempatan kedua, ketika aku dan teman-temanku pergi ke Paris, rice cooker kembali menjadi pahlwan sejati kami. Kami hanya menghabiskan sekitar 3 hari di Paris dan tentu saja bagi kami salah satu tantangan utama kami adalah makanan. Tentu saja ada banyak restoran yang menawarkan beragam makanan lezat. Tapi ada beberapa hal yang harus kami pertimbangkan. Pertama, kami harus irit dalam penggunaan uang. Masuk ke restoran berarti kami harus menyiapkan uang yang cukup sementara sebagai mahasiswa yang rata-rata adalah penerima beasiswa, kami harus pintar menjaga pengeluaran kami. Kedua, kami juga tidak bisa makan apa saja dan di mana saja kami mau karena agama dan keyakinan yang kami anut. Aku harus mengacungkan jempol kepada teman-temanku yang perempuan. Jauh sebelum mereka berangkat, mereka telah berbagi tugas untuk membawa bekal makanan yang cukup tahan beberapa hari. Ada yang memasak rendang daging lezat. Ada yang membawa sambal tempe yang hanya membayangkannya saja mampu membuat liurku mencair. Mereka juga membawa beberapa bungkus mi instan yang sebenarnya membuatku bingung, bagaimana cara memasak mi instan itu nanti di kamar hotel? Apakah hotel akan menyediakan kompor dan panci seperti hotel-hotel di Indonesia? Jujur aku tidak tahu. Dua benda terakhir yang mereka siapkan adalah rice cooker besar dan beras. Untuk dua benda terakhir ini aku mengacungkan jempolku kepada teman-temanku karena tentu saja nasi akan menjadi makanan utama yang akan membuat kami aman bertahan selama kami berada di sana. 

Aku sedang menikmati sisa nasi, rendang, dan sambal tempe jatah temanku yang di sebelah kananku yang akhirnya membuat dia masuk angin dan muntah-muntah karena kelaparan. (maaf ya mbak)

     Kamipun berhasil menjejakkan kaki di Paris, Perancis. Semua perbekalan yang disiapkan oleh teman-temanku memang terbukti mampu membuat kami berhemat dan tetap bisa makan enak. Bahkan bekal kami habis sebelum kami pulang ke Belanda. Suatu saat aku tidak bisa menahan lapar ketika kami menikmati indahnya kota Paris, aku meminta bekal temanku yang memang sengaja membawa bekal karena dia menderita maag dan harus mengisi perut setiap saat. Hasilnya temanku itu muntah-muntah dan masuk angin karena perutnya kosong sementara bekalnya habis aku makan.  Masalah mi instan yang aku pertanyakan, ternyata mudah saja solusinya. Teman-teman yang perempuan merebus mi itu menggunakan rice cooker yang kami gunakan untuk memasak nasi. Ide cerdas itu tidak melintas di pikiranku sebelumnya. Aku tidak terpikir bahwa rice cooker mampu merebus air yang bisa digunakan untuk merebus mi. Sekali lagi rice cooker tampil sebagai pahlawan internasional.

     Rice cooker kembali menjadi pahlawan yang memberikan sumbangsih besar untuk perjalananku. Terakhir aku melakukan perjalanan murah ke beberapa negara asia tenggara yaitu Malaysia, Singapura, Thailand, dan Kamboja. Aku melakukan perjalanan itu dengan tiga orang temanku dan aku dengan semangat berbagi pengalamanku ketika aku ke Paris membawa bekal makanan dan rice cooker. Awalnya semua mencibir dan berkata bahwa situasi di Eropa berbeda dengan di negara-negara asia tenggara yang relatif memiliki makanan yang hampir sama dengan makanan Indonesia. Tapi aku berhasil meyakinkan teman-temanku bahwa mencari makanan yang halal di negara-negara lain tidak akan semudah dibandingkan dengan di Indonesia. Akhirnya kamipun memutuskan untuk membawa rendang yang menjadi andalan kami, sebagai informasi, rendang telah dinobatkan sebagai makanan terlezat di dunia oleh salah satu lembaga survey. Kemudian kami membawa sambal ikan teri dicampur dengan kacang tanah, dan kentang yang diiris tipis dan digoreng kering. Untuk makanan yang satu ini, aku merasa sangat senang karena sebenarnya itu adalah permintaan pribadiku. Tentu saja kami tidak lupa membawa beberapa bungkus mi instan, beras, dan rice cooker sang pahlawan. Aku kembali diprotes ketika aku mengusulkan untuk membawa beras yang pasti akan mudah diperoleh di negara-negara lain di asia tenggara tapi aku bersikeras untuk membawanya sekedar untuk berjaga-jaga jika kami berada pada situasi kami tidak bisa menemukan makanan yang bisa kami makan. Rice cookerku yang berukuran kecilpun dibawa dan orang yang beruntung membawa rice cooker itu adalah temanku yang berbadan paling pendek di antara kami tapi membawa tas dengan ukuran paling besar hampir sama besar dengan ukuran tubuhnya.  Awalnya dia mencak-mencak menolak untuk membawa rice cooker itu, tapi kami berhasil meyakinkan dia atau lebih tepatnya menakut-nakuti dia bahwa di Kamboja tidak ada makanan yang bisa dimakan sementara dia pernah bilang kalau dia harus makan nasi setiap hari. 

     Sesampainya kami di Malaysia, bekal makanan yang kami bawa sudah langsung melaksanakan tugasnya dengan baik. Kami tiba di bandara Kuala Lumpur di sore hari dan kami kelaparan. Kamipun memutuskan untuk mencari restoran siap saji berlabel halal. Baru sekitar dua atau tiga suap teman-temanku menyantap makanan yang kami pesan, mereka berpandang-pandangan penuh arti sejenak, lalu semua pandangan mereka yang berubah menjadi sedikit buas, beralih ke tas punggung temanku yang menyimpan bungkusan rendang. Dapat ditebak, beberapa menit berikutnya, bungkusan rendang telah terbuka dan menyusut isinya sampai setengah. 

     Semua makanan dan rice cooker yang kami bawa memang benar-benar memberi kami kemudahan yang luar biasa. Ketika kami tiba di Siam Reap, Kamboja, kami dilanda kelaparan yang cukup serius setelah melakukan perjalanan panjang dari Indonesia, Malaysia, dan Kamboja dan ingin segera makan tanpa harus berpikir harus membeli apa dan dimana. Maka keluarlah kembali senjata pamungkas yang kami bawa. Setelah masuk ke kamar hotel, kami memasak nasi dengan rice cooker yang kami bawa dan setelah nasi tanak, kami makan dengan tertawa seru sambil berebut sambal terasi instan yang kami bawa. Keesokan paginya, sebelum menuju Angkor Wat, komplek candi yang termasyur di dunia itu, kami pun menikmati sarapan mi instan rebus yang kami rebus di rice cooker. Tidak ketinggalan kami membawa bekal nasi dan lauk yang masih tersisa untuk makan siang kami di Angkor Wat. Tidak ada lagi yang memprotes keputusan kami membawa rice cooker, yang ada adalah semua bekal makanan yang kami bawa menyusut drastis bahkan sebelum kami sampai di Thailand dan Singapura.